SOLO – Di tengah hiruk pikuk kota Solo yang sarat akan sejarah dan budaya, sebuah peristiwa penting baru saja terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta. S.I.K.S Paku Buwono (PB) XIV Purbaya, sang raja baru, mengambil langkah berani dengan menaikkan gelar kepada lima kerabat terdekatnya. Keputusan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah simbol penghormatan dan penghargaan atas dukungan yang telah mereka berikan dalam perjalanan panjang menuju tampuk kekuasaan.
PB XIV Purbaya menaikkan gelar ketiga kakak perempuannya, yakni GKR Rumbay Kusuma Dewayani, GRAy Devi Lelyana Dewi, dan GRAy Dewi Ratih Widyasari. Selain itu, ia juga menaikkan gelar kedua adik mendiang ayahnya, PB XIII, yaitu KGPH Benowo dan KGPH Adipati Dipokusumo. Pemberian gelar ini dilakukan setelah acara Jumenengan PB XIV Purbaya yang berlangsung meriah pada Sabtu (15/11).
GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, salah satu kakak perempuan PB XIV Purbaya, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kenaikan gelar tersebut. Ia menjelaskan bahwa dirinya yang sebelumnya sudah bergelar GKR (Gusti Kanjeng Ratu) kini disepuhkan lagi menjadi GKR Panembahan Timoer.
Sementara itu, Gusti Devi dan Gusti Ratih yang awalnya bergelar GRAy (Gusti Raden Ayu) kini naik menjadi GKR (Gusti Kanjeng Ratu).
Kedua adik PB XIII juga mendapatkan kehormatan yang sama. Gelar mereka dinaikkan dari Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) menjadi KGPA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati) Panembahan. Dengan demikian, KGPH Benowo dan KGPH Adipati Dipokusumo kini bergelar KGPA Panembahan.
Rumbay menegaskan bahwa kenaikan gelar ini tidak berkaitan dengan jabatan atau struktur di Bebadan, sebuah lembaga yang mengurusi urusan internal keraton. Ia menjelaskan bahwa kenaikan gelar ini murni berasal dari Sabda Raja, yaitu titah atau perintah raja.
Rumbay menambahkan bahwa PB XIV Purbaya sebagai putra bungsu merasa terpanggil untuk menempatkan mereka pada posisi yang lebih terhormat. Sebagai seorang raja, PB XIV Purbaya tentu memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, ia ingin memberikan penghormatan yang setimpal kepada para kerabatnya yang telah memberikan dukungan yang tak ternilai harganya.
Selain itu, Rumbay juga mengungkapkan bahwa PB XIV Purbaya merasa tersentuh dengan perjuangan mereka untuk mendudukkan dirinya sebagai Raja Keraton Solo. Meskipun masih ada beberapa saudara yang enggan dirangkul, PB XIV Purbaya sangat menghargai upaya mereka untuk merangkul semua pihak dan menciptakan persatuan di tengah perbedaan.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Keraton Kasunanan Surakarta baru saja menggelar Jumeneng Nata Binayangkare PB XIV pada Sabtu (15/11). Dalam acara tersebut, Putra Mahkota Keraton Solo, KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram atau yang lebih dikenal dengan nama Gusti Purboyo, resmi bertakhta sebagai PB XIV.
Prosesi Jumenengan dimulai dari dalam Keraton Kasunanan Surakarta. Sekitar pukul 11.00 WIB, PB XIV keluar dari pintu kori Kamandungan menuju Siti Hinggil, sebuah tempat yang dianggap sakral di dalam keraton. PB XIV diiringi oleh para prajurit keraton yang gagah berani, serta sejumlah abdi dalem yang membawa berbagai macam udik-udik, yaitu benda-benda pusaka keraton yang memiliki nilai sejarah dan simbolis yang tinggi. PB XIV sendiri mengenakan setelan beskap raja berwarna ungu yang sangat anggun dan berwibawa.
Sesampainya di Siti Hinggil, PB XIV disambut oleh para tamu undangan, keluarga, kerabat, serta abdi dalem yang sudah menunggunya sejak lama. Kemudian, PB XIV melaksanakan Upacara Keprabon Dalem, sebuah prosesi yang diwariskan sejak masa Mataram Islam. Upacara ini merupakan simbol pengukuhan PB XIV sebagai raja yang sah dan berdaulat di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Baca Juga:
Kabupaten Bogor Makin Bersinar: Menjadi Wilayah Perkebunan Kelapa Sawit Terluas Kedua di Jawa Barat
Setelah Upacara Keprabon Dalem selesai, PB XIV membacakan Sabda Dalem di atas Watu Gilang, sebuah batu besar yang dianggap memiliki kekuatan magis dan sejarah yang panjang. Dalam Sabda Dalem tersebut, PB XIV menyatakan bahwa dirinya akan menggantikan Kanjeng Rama Sinuhun Pakoe Boewono XIII sebagai Sri Susuhunan di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Ketiga kakak perempuan PB XIV yang kini bergelar GKR Panembahan Timoer, GKR Devi, dan GKR Ratih, turut hadir dan memberikan dukungan penuh dalam acara jumenengan tersebut. Demikian pula dengan kedua paman PB XIV yang mendapat gelar Panembahan, mereka juga hadir dan memberikan restu kepada sang raja baru.
Namun, di balik kemeriahan acara jumenengan tersebut, tersembunyi sebuah konflik yang masih membayangi suksesi Keraton Kasunanan Solo. Konflik ini berawal saat SISKS Paku Buwono XIII wafat. Sesaat sebelum pemakaman, putra bungsunya yang bernama KGPH Purbaya mengukuhkan diri sebagai raja baru dengan gelar Paku Buwono XIV.
KGPH Purboyo sendiri telah diangkat sebagai putra mahkota pada tahun 2022 lalu dengan gelar KGPAA Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram VI. Pengangkatan ini tentu saja menimbulkan harapan besar bagi banyak pihak bahwa KGPH Purboyo akan menjadi penerus tahta yang sah dan mampu membawa Keraton Kasunanan Solo menuju masa depan yang lebih baik.
Namun, sepekan kemudian, putra PB XIII yang lain, KGPH Mangkubumi, juga mengukuhkan diri sebagai raja baru dengan gelar PB XIV. Pengukuhan ini dilakukan di hadapan sejumlah adik PB XIII, yang semakin memperkeruh suasana dan memicu dualisme kepemimpinan di Keraton Kasunanan Solo.
Adapun PB XIV Purbaya telah menjalani penobatan resmi sebagai raja dalam acara jumenengan yang berlangsung pada Sabtu (15/11) lalu. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan tamu undangan, termasuk para tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan perwakilan dari berbagai keraton di Nusantara.
Namun, meskipun telah dinobatkan secara resmi, PB XIV Purbaya masih harus menghadapi tantangan berat untuk menyatukan kembali Keraton Kasunanan Solo yang terpecah belah. Ia harus mampu merangkul semua pihak, termasuk KGPH Mangkubumi dan para pendukungnya, agar tercipta persatuan dan kesatuan di dalam keraton.
Kenaikan gelar kepada lima kerabat terdekatnya merupakan salah satu langkah strategis yang diambil oleh PB XIV Purbaya untuk memperkuat posisinya dan mendapatkan dukungan yang lebih luas. Dengan memberikan penghormatan kepada para kerabat yang telah berjasa, PB XIV Purbaya berharap dapat meredakan ketegangan dan menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi rekonsiliasi.
Namun, tantangan yang dihadapi oleh PB XIV Purbaya masih sangat besar. Ia harus mampu membuktikan kepada semua pihak bahwa dirinya adalah raja yang adil, bijaksana, dan mampu membawa Keraton Kasunanan Solo menuju masa depan yang lebih gemilang.
Kisah suksesi Keraton Kasunanan Solo ini merupakan cerminan dari kompleksitas dan dinamika politik yang terjadi di dalam keraton. Konflik kepentingan, perebutan kekuasaan, dan perbedaan pandangan seringkali menjadi penyebab perpecahan dan ketegangan di dalam keraton.
Oleh karena itu, dibutuhkan sosok pemimpin yang kuat, visioner, dan mampu merangkul semua pihak untuk mengatasi berbagai macam masalah dan tantangan yang dihadapi oleh keraton. PB XIV Purbaya memiliki potensi untuk menjadi pemimpin seperti itu. Namun, ia harus mampu menunjukkan kepada semua pihak bahwa dirinya layak untuk memimpin Keraton Kasunanan Solo menuju masa depan yang lebih baik.
Baca Juga:
Nasib Sepatu Bata di Ujung Tanduk? Rugi Gede, Penjualan Lesu, Mampukah Bangkit Kembali?
Perjalanan PB XIV Purbaya sebagai raja baru Keraton Kasunanan Solo masih panjang dan penuh liku. Namun, dengan dukungan dari para kerabatnya, serta tekad yang kuat untuk mempersatukan kembali keraton, PB XIV Purbaya memiliki harapan untuk meraih kesuksesan dan membawa Keraton Kasunanan Solo menuju masa depan yang lebih gemilang.









