Menu

Mode Gelap

Blog · 18 Nov 2025 16:59 WIB

Terobosan! Kardus dan Tanah Bisa Gantikan Semen, Lebih Kuat & Ramah Lingkungan


 Terobosan! Kardus dan Tanah Bisa Gantikan Semen, Lebih Kuat & Ramah Lingkungan Perbesar

PROLOGMEDIA – Para ilmuwan terus berupaya mencari solusi inovatif untuk mengurangi dampak negatif industri konstruksi terhadap lingkungan. Salah satu fokus utama adalah mencari alternatif pengganti semen, bahan bangunan yang penting namun menghasilkan emisi karbon yang signifikan dalam proses produksinya. Kabar baik datang dari RMIT University Melbourne, Australia, di mana para peneliti telah menemukan kombinasi bahan alami yang menjanjikan: tanah dan kardus bekas!

Semen, yang terbuat dari campuran batu kapur, kalsium, silikon, besi, dan aluminium, membutuhkan proses pemanasan yang intens dalam kiln besar dengan suhu sekitar 1.482 derajat Celcius untuk menghasilkan klinker, bahan dasar semen. Proses ini, menurut laporan United States Environmental Protection Agency (EPA), menyumbang hampir 8% dari emisi karbon dunia setiap tahun. Emisi karbon yang berlebihan ini tentu saja berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungan di masa depan.

Menyadari masalah ini, para peneliti dari RMIT University melakukan penelitian mendalam untuk mencari bahan-bahan alami yang dapat menggantikan semen. Mereka berfokus pada rammed earth, teknik konstruksi kuno yang menggunakan tanah yang dipadatkan dengan sedikit air. Teknik ini melibatkan pemadatan tanah lembap berlapis-lapis di dalam cetakan untuk menciptakan dinding atau lantai yang kokoh.

Rammed earth memiliki keunggulan dalam menjaga suhu ruangan tetap stabil, sehingga bangunan tetap sejuk di musim panas dan hangat di musim dingin. Namun, untuk meningkatkan kekuatannya, para peneliti mencampurkan tanah padat dengan bahan lain, yaitu kardus daur ulang.

Kombinasi tanah padat, air, dan tabung kardus daur ulang ternyata menghasilkan material yang kuat dan stabil. Kardus daur ulang berfungsi ganda: sebagai cetakan sekaligus fondasi struktur bangunan. Setelah melalui serangkaian uji laboratorium, hasilnya menunjukkan bahwa material ini bahkan lebih kokoh dibandingkan tanah yang dicampur dengan semen.

Meskipun hasilnya menjanjikan, tim peneliti mengakui bahwa penggunaan tanah dan tabung kardus daur ulang saat ini hanya cocok untuk rumah satu lantai. Mereka perlu melakukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan kekuatan material ini dalam membangun hunian dua lantai atau lebih tinggi.

Baca Juga:
5 Sayuran Ampuh Menurunkan Asam Urat Secara Alami, Konsumsi Rutin Bisa Terlihat Hasilnya dalam Sebulan

Selain campuran tanah dan kardus daur ulang, tim peneliti RMIT University juga menguji penggunaan tabung serat karbon. Bahan ini dikenal tahan lama dan telah banyak digunakan dalam komponen pesawat terbang dan mobil sport. Kombinasi antara tanah padat, air, dan serat karbon menghasilkan kolom yang hampir sekuat beton, namun dengan bobot yang lebih ringan.

Selain itu, material ini juga diklaim lebih ramah lingkungan karena berhasil mengurangi 80% emisi karbon di udara. Tim peneliti menilai bahwa material tanah padat dan tabung karbon sangat cocok untuk hunian yang berada di daerah rawan gempa bumi, karena konstruksi bangunannya dinilai lebih ringan namun tetap kuat.

Meskipun penggunaan tanah padat dan kardus daur ulang menunjukkan potensi yang besar, para peneliti menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Mereka perlu melakukan studi lebih lanjut untuk menilai bagaimana material ini bertahan dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan.

Para ilmuwan juga perlu mengembangkan teknik konstruksi yang lebih efisien dan ekonomis untuk memastikan bahwa material ini dapat digunakan secara luas dalam industri konstruksi.

Jika tanah padat dan kardus daur ulang terbukti mampu bertahan dalam jangka waktu lama dan dapat diaplikasikan secara luas, bukan tidak mungkin penggunaan semen akan ditinggalkan sebagai bahan material dasar untuk membangun rumah.

Baca Juga:
Terobosan Kesehatan: Danantara-SK Plasma Bangun Pabrik Obat di Karawang, Akhiri Ketergantungan Impor

Temuan ini membuka jalan bagi industri konstruksi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, di mana bangunan dapat dibangun dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan-bahan yang menghasilkan emisi karbon tinggi.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog