Menu

Mode Gelap

Berita · 29 Nov 2025 16:47 WIB

Gus Ipul Tegaskan Tak Ingin Gantikan Gus Yahya di Tengah Kisruh Kepemimpinan PBNU


 Gus Ipul Tegaskan Tak Ingin Gantikan Gus Yahya di Tengah Kisruh Kepemimpinan PBNU Perbesar

PROLOGMEDIA

Belakangan, publik heboh oleh spekulasi tentang siapa yang akan memimpin PBNU di tengah gejolak yang terjadi di tubuh organisasi. Isu pergantian pucuk pimpinan muncul setelah keputusan rapat internal yang menyebut bahwa Ketua Umum Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tidak lagi berstatus sebagai Ketua Umum terhitung 26 November 2025. Disebutkan bahwa jabatan dan hak yang melekat padanya dicabut sejak pukul 00.45 WIB pada tanggal itu. Namun Gus Yahya menolak mundur, menegaskan bahwa mandat dari Muktamar NU masih sah dan hanya Muktamar yang berwenang mengganti ketua.

Di tengah pusaran pertanyaan — siapa yang akan mengambil alih — nama Gus Ipul turut muncul. Beberapa poster beredar di publik yang menampilkan foto Gus Ipul dengan logo PBNU dan tulisan seolah-olah menunjuknya sebagai Pelaksana Harian (Plh) atau Penjabat (Pj) Ketua Umum. Namun Gus Ipul kemudian dengan tegas menyebut kabar tersebut hoaks. Dia menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat menjadi Plh Ketum PBNU.

Dalam sebuah pernyataan di Bandung, Gus Ipul secara tegas berkata bahwa ia “tidak ada potongan untuk jadi ketua umum NU.” Menurutnya, tugas memimpin PBNU membutuhkan sosok yang “lebih layak” daripada dirinya. Pernyataan ini dilontarkan sebagai jawaban atas ramainya spekulasi dan juga untuk meredam kegundahan kalangan anggota NU yang khawatir dengan ketidakpastian kepemimpinan.

Di saat yang sama, keputusan struktur PBNU terus bergerak: Gus Ipul resmi dicopot dari jabatan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, dalam rapat harian tanfidziyah yang dipimpin langsung oleh Gus Yahya. Kini, Gus Ipul dipindahkan ke posisi Ketua PBNU Bidang Pendidikan, Hukum, dan Media — sebuah restrukturisasi yang dianggap netral oleh sebagian pihak, tetapi memunculkan pertanyaan tentang stabilitas dan legitimasi kepemimpinan di internal organisasi.

Gus Ipul pun menyerukan ketenangan kepada seluruh anggota, cabang, dan wilayah NU. Ia meminta agar semua pihak tidak mudah terpengaruh isu dan informas i yang beredar luas. Menurutnya, konflik internal dan dinamika organisasi seharusnya diselesaikan melalui mekanisme NU yang selama ini berlaku — dengan melibatkan para ulama, kiai, dan pengasuh pesantren. Ia menegaskan bahwa kunjungannya ke pesantren bukan manuver politik, melainkan bagian dari tradisi rutin untuk sowan dan meminta nasihat.

Baca Juga:
Kebangkitan Dramatis Sumur LD-10: Enam Tahun Mati, Kini Meledak Produksi Ribuan Barel per Hari

Dengan tegas, Gus Ipul mengatakan bahwa persoalan saat ini lebih difokuskan pada jajaran Syuriyah dan Rais Aam — kelompok kiai sepuh yang memegang wewenang syuro dalam organisasi. Ia mengajak agar seluruh kader dan warga Nahdliyin tetap menunggu keputusan resmi dan mengedepankan musyawarah bersama para ulama, tanpa terbawa emosi atau opini spontan.

Di tengah ketidakpastian itu, publik diguncang oleh dua kutub besar: di satu sisi, ada keputusan administratif dari rapat internal yang menyatakan posisi Gus Yahya dicabut, di sisi lain, ada penolakan keras dari yang bersangkutan, yang mengklaim mandatnya sah sampai masa jabatannya habis. Di antara kedua arus itu, Gus Ipul memilih menarik diri dari pusaran kekuasaan tertinggi — setidaknya untuk saat ini — dengan menegaskan bahwa dirinya tidak ditakdirkan memimpin NU.

Keputusan restrukturisasi yang memindahkannya dari Sekjen ke posisi bidang, sekaligus penolakannya untuk menjadi Plh/Pj Ketum, menunjukkan bahwa Gus Ipul memilih menahan diri dan menyerahkan penentuan pemimpin selanjutnya kepada mekanisme organisasi. Pernyataannya dipandang oleh banyak pihak sebagai langkah bijaksana agar NU tidak terpecah, terutama di saat konflik internal tengah memanas.

Meski demikian, berbagai pihak masih menanti: siapa yang akan diangkat secara resmi sebagai pengganti Ketua Umum, bagaimana mekanisme pemilihan/pelantikan dijalankan, dan apakah NU akan tetap solid atau justru terbelah akibat perbedaan pandangan. Bagi banyak anggota dan simpatisan NU, harapan terbesar kini adalah agar keputusan final diambil oleh para ulama — sesuai tradisi dan semangat organisasi — supaya NU tetap menjaga marwahnya sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan.

Penolakan Gus Ipul untuk “mengisi kekosongan” pun memberi ruang bagi peredaman ketegangan. Dengan tegas ia menolak campur tangan politik, menyatakan bahwa dirinya “tidak ada potongan” untuk memimpin — frasa yang kemudian melambung di media sosial dan menjadi simbol bahwa NU membutuhkan pemimpin dengan legitimasi dan kemampuan yang sesuai, bukan sekadar jawaban sementara atas krisis.

Kini, ketegangan mereda sedikit, tapi bayang-bayang ketidakpastian tetap membayangi. Banyak pihak berharap agar konflik internal ini diselesaikan melalui dialog, konsolidasi ulama, dan mekanisme yang transparan dan demokratis. Harapan tersebut bukan hanya untuk stabilitas organisasi, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap NU sebagai salah satu pilar keagamaan dan sosial di Indonesia.

Baca Juga:
Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

Di atas segalanya, keputusan dan sikap yang diambil hari ini akan menentukan arah NU dalam beberapa tahun ke depan — apakah terus melaju ke masa depan dengan persatuan dan kebersamaan, atau terbelah oleh konflik kepentingan. Dengan menolak jabatan puncak, Gus Ipul menunjukkan bahwa dirinya memilih amanah moral daripada ambisi kekuasaan. Kini semua menunggu: siapa yang layak dan mampu memimpin — dan apakah proses itu akan dilakukan dengan adil, arif, dan mengedepankan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi NU selama ini.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita