Menu

Mode Gelap

Kuliner · 3 Des 2025 19:26 WIB

7 Kuliner Legendaris Jatinegara yang Tak Pernah Sepi, dari Rawon, Soto hingga Roti Jadul


 7 Kuliner Legendaris Jatinegara yang Tak Pernah Sepi, dari Rawon, Soto hingga Roti Jadul Perbesar

PROLOGMEDIA – Kawasan Jatinegara di Jakarta Timur masih mempertahankan reputasinya sebagai “surga kuliner” yang tak lekang oleh waktu. Di antara gang-gang padat dan jalanan yang sibuk, tersebar berbagai warung dan kedai legendaris — dari yang menawarkan rawon, soto, siomay, hingga roti klasik — yang sejak puluhan tahun lalu sudah menjalin ikatan nostalgia dengan masyarakat. Rasanya tak mengherankan bila tiap tempat kerap dipadati pelanggan, bukan sekadar untuk makan, melainkan untuk menyambung kenangan. Berikut ini narasi melebar tentang tujuh kuliner legendaris di Jatinegara, yang tetap relevan dan ramai hingga kini.

 

Sejak awal, siapa pun yang melangkahkan kaki di kawasan Jatinegara akan langsung merasakan nuansa hangat khas tempat makan yang telah bertahan lama. Warung-warung sederhana dengan gerobak atau bangunan seadanya, aroma masakan yang menggoda di udara, serta ramainya pembeli — barangkali inilah daya tarik utama, selain tentu saja rasa yang “tidak pernah berubah”.

 

Salah satu yang paling menonjol adalah Rawon Manten Jatinegara. Terletak di Jl. Bekasi I No. 19, Rawon Manten menghadirkan rawon dengan kuah pekat, gurih, dan kaya rempah — sebuah cita rasa khas yang meresap hingga ke tulang. Di sana, rawon bukan sekadar makanan; ia adalah warisan rasa yang diwariskan turun-temurun. Tak hanya rawon, pisang goreng di warung ini juga dikenal renyah dan manis, menjadi teman ideal menemani mangkuk rawon panas. Aneka kelezatan ini disajikan dari pagi hingga malam — pukul 09.00 sampai 20.30 (pada hari Minggu mulai 10.00) — menarik pembeli dari berbagai kalangan. Kesederhanaan tempat justru menjadi bagian dari daya tariknya: pengunjung datang bukan tergoda kemewahan, melainkan kejujuran rasa dan rasa nyaman yang tak cerewet.

 

Tidak jauh dari situ, berdirilah Soto Sapi Ni’mat — warung soto yang terkenal karena kesederhanaannya dan komitmen menjaga tradisi. Di sini, menu satu-satunya adalah soto Betawi santan tanpa susu; daging dan kikil dimasak dua kali agar teksturnya empuk sempurna. Disajikan bersama sambal rawit dan acar, soto ini memancarkan aroma santan gurih yang khas dan sulit dilupakan. Harga yang ramah di kantong — Rp 26.000 tanpa nasi atau Rp 32.000 untuk paket dengan nasi — membuat banyak orang memilih menikmati makan siang atau makan malam di warung ini. Karena rasa dan konsistensinya, warung ini sehari-harinya selalu dipenuhi orang bertujuan menikmati semangkuk soto penuh kenangan.

 

Sesuai namanya, Siomay Wawa adalah siomay — tapi bukan siomay biasa. Berada di gang padat permukiman (Gg. Banten X No. 99), siomay di warung ini dibuat dari adonan ayam premium, menghasilkan tekstur yang meaty dan gurih berbeda. Warung buka sejak pukul 05.00 hingga 17.00; tapi karena popularitas dan cita rasanya yang autentik — banyak pelanggan yang rela memesannya satu hari sebelumnya (H-1) agar tidak kehabisan. Di tengah maraknya jajanan modern dan makanan cepat saji, siomay ini tetap bertahan, menjadi bukti bahwa makanan sederhana bisa bertahan oleh karena rasa dan kualitas.

 

Tak kalah menarik adalah Ayam Goreng Ibu Haji, sebuah warung dengan reputasi lama dalam menyajikan ayam kampung goreng dengan rasa gurih khas racikan keluarga. Potongan ayam kampung digoreng sempurna hingga empuk di dalam, sambil tetap mempertahankan kerenyahan luar, lalu disajikan bersama serundeng wangi — aroma kelapa sangrai yang menenangkan. Harga per porsi sekitar Rp 25.000, dan empal gorengnya juga menjadi favorit banyak pelanggan. Ada sesuatu hangat dan akrab ketika duduk di warung ini, seolah kita diajak menikmati hidangan rumah di tengah kota yang sibuk.

Baca Juga:
Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

 

Bagi pecinta hasil laut, Seafood 68 Jatinegara menjadi pilihan yang sulit dilewatkan. Meski warung seafood termasuk dalam kategori kaki lima, menu-menu seperti cumi, kepiting, dan aneka seafood lainnya disajikan dengan porsi besar dan bumbu yang meresap. Kepuasan pelanggan terjamin bukan karena harga mahal — menu termahal pun hanya sekitar Rp 45.000 — melainkan karena kualitas bahan dan rempah yang kuat, yang membuat tiap gigitan terasa kaya rasa. Warung seafood ini pun tak pernah sepi, menjadi destinasi favorit bagi mereka yang ingin makan seafood tanpa harus ke restoran mewah.

 

Menembus keramaian kota dan hiruk-pikuk lalu lintas di Jatinegara, ada satu sudut yang justru menawarkan suasana santai: Taman Kuliner SPBU By Pass 25. Di area SPBU ini, pengunjung bisa menemukan lebih dari 10 jenis jajanan — mulai dari ketan bumbu, somay, burger keju, hingga jajanan viral — semuanya dalam satu tempat. Warung-warung kecil berjajar, menyuguhkan makanan cepat saji, camilan, dan hidangan berat, cocok bagi siapa saja yang ingin makan santai bersama teman atau keluarga. Dengan rekomendasi untuk memesan minimal satu hari sebelum (H-1), tempat ini menunjukkan bahwa popularitasnya bukan kebetulan — melainkan hasil dari konsistensi rasa dan pelayanan.

 

Tak lengkap bicara Jatinegara tanpa menyebut Toko Roti Gelora — toko roti klasik yang sudah eksis sejak era 1980-an dan kini dikelola generasi kedua. Toko ini terkenal dengan roti besar dengan tekstur lembut dan harum. Di dalam etalase tersedia berbagai jenis: roti tawar, roti manis, hingga roti isi — semua dengan rasa tradisional yang autentik. Dengan harga mulai Rp 15.000, toko ini menarik berbagai kalangan; konsistensi rasa dan tekstur membuatnya tetap dicari meski banyak bakery modern bermunculan. Roti-roti di Toko Roti Gelora tidak sekadar makanan, tapi juga bagian dari sejarah kuliner setempat — warisan rasa yang bertahan dari masa ke masa.

 

Ketujuh tempat ini, meskipun berbeda jenis, punya benang merah yang sama: ketulusan menjaga rasa, resep turun-temurun, dan kesederhanaan yang tak mewah — namun membuat setiap suapan terasa hangat, akrab, dan penuh kenangan. Inilah yang membuat orang datang bukan hanya untuk makan, tapi untuk mengulang memori, merasakan nostalgia, dan — kadang — mengajak orang lain mengenal kota lewat rasa.

 

Kawasan Jatinegara, lewat deretan warung dan kedai legendaris ini, menunjukkan bahwa di tengah modernisasi dan tren makanan instan, ada ruang bagi tradisi untuk terus hidup. Warung-warung sederhana tersebut menjadi saksi zaman: zaman ketika makanan tidak cuma soal cita rasa, tetapi identitas, ingatan, dan rasa komunitas.

 

Baca Juga:
Jangan Asal Jalan! Ini Cara Jalan Kaki yang Bikin Jantung Sehat

Bagi siapa pun yang berkeliaran di Jakarta — terutama yang ingin menjelajah sejarah rasa — Jatinegara menawarkan salam: lewat aroma rempah, suara penggorengan, obrolan pelanggan, dan antrian yang tak pernah surut. Setiap porsi adalah undangan untuk kembali ke akar — ke rasa yang mungkin kita pikir hilang, tetapi tetap hidup di sudut-sudut jalan kota.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pasar Kue Subuh Senen: Denyut Ekonomi dan Tradisi Kuliner Jakarta yang Tak Pernah Tidur

26 Desember 2025 - 19:57 WIB

Rahasia Singkong Goreng Merekah dan Empuk Tanpa Air Es

26 Desember 2025 - 19:08 WIB

Kreativitas Kuliner Nusantara: Ragam Camilan dan Olahan Unik dari Daun Pepaya

26 Desember 2025 - 18:24 WIB

Wajib Tahu, Ini Bagian Udang yang Aman Dimakan dan Sebaiknya Dihindari

25 Desember 2025 - 02:07 WIB

Waspada Saat Terbang, Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Pesawat

25 Desember 2025 - 01:52 WIB

Ayam Panggang Bumbu Pedas yang Meresap, Daging Empuk dan Juicy

23 Desember 2025 - 18:37 WIB

Trending di Kuliner