PROLOGMEDIA – Di sebuah sudut kawasan Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, pada awal pekan ini sebuah fenomena yang tak biasa dan cukup mengundang perhatian warga terungkap nyata — tumpukan sampah yang sebelumnya membentuk bukit dan menyentuh ketinggian yang cukup signifikan kini mulai ditangani dan dibersihkan secara bertahap. Selama berhari-hari, tumpukan sampah ini bukan hanya menjadi pemandangan yang memuakkan mata, tetapi juga menjadi sumber ketidaknyamanan, aroma tak sedap, serta kekhawatiran akan dampak kesehatan dan lingkungan yang meluas di sekitar pusat keramaian tersebut.
Kisah ini bermula ketika sampah-sampah yang dihasilkan dari aktivitas pasar, rumah tangga, serta warga sekitar menumpuk di titik pengumpulan sementara atau TPS (Tempat Penampungan Sementara) dekat Pasar Cimanggis. Dalam beberapa hari terakhir, warga dan pengunjung pasar kerap mengeluhkan kondisi lingkungan yang kian memburuk akibat sampah yang tidak segera diangkut. Tumpukan ini bukan hanya sekadar menumpuk; pada puncaknya, sampah terlihat menggunung hampir mencapai ketinggian yang mengagetkan banyak orang yang melintas di sekitar lokasi.
Sampah-sampah yang menumpuk tersebut terdiri dari berbagai jenis, mulai dari sampah rumah tangga seperti sisa makanan, plastik, kertas, hingga bahan organik lainnya. Tidak sedikit pula kantong plastik berwarna-warni yang menciptakan panorama tanpa estetika di satu area yang biasanya ramai oleh aktivitas jual beli dan interaksi sosial. Kondisi ini lantas memunculkan aroma busuk yang menyengat, terutama ketika terpapar panas matahari di siang hari atau ketika hujan turun dan mempercepat proses pembusukan. Warga sekitar, termasuk pedagang, pembeli, hingga pengendara yang melintas, tak bisa lepas dari gangguan bau yang menusuk hidung dan membuat suasana terasa tidak nyaman.
Lebih dari sekadar pemandangan yang mengganggu, tumpukan sampah ini juga menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Bau tidak sedap yang terus-menerus muncul bisa memicu gangguan pernapasan, sementara keberadaan sampah organik yang membusuk turut menjadi sarang bagi serangga dan binatang pengganggu lain seperti lalat dan tikus. Kekhawatiran ini semakin dirasakan oleh pedagang di sekitar Pasar Cimanggis, di mana beberapa di antaranya melaporkan turunnya jumlah pembeli karena enggan berada terlalu lama di sekitar area yang penuh dengan sampah. Pasar yang biasanya menjadi pusat perputaran ekonomi lokal mendadak dirundung persoalan lingkungan yang serius.
Pengangkutan sampah kemudian menjadi sorotan utama. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari sebelum petugas turun tangan, tidak ada armada pengangkut sampah yang datang. Mereka menyatakan bahwa dalam kondisi normal, truk-truk dari Dinas Lingkungan Hidup atau pihak terkait biasanya rutin mengambil sampah setiap hari. Namun belakangan ini, pengangkutan tersebut tak berjalan seperti biasa. Akibatnya, tumpukan sampah semakin cepat menumpuk, terutama karena aktivitas pasar yang padat serta sederet rumah tangga di sekitar area yang juga menghasilkan banyak limbah setiap harinya. Ketika petugas kebersihan tidak muncul selama beberapa hari berturut-turut, bukan hanya volume sampah yang membesar, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang kemudian ikut meluas.
Baca Juga:
Diskon Tol 20 Persen Saat Libur Nataru 2025/2026, Ini Syarat dan Cara Memanfaatkannya
Menanggapi keresahan warga yang semakin memuncak, pada Selasa malam, upaya pengangkutan akhirnya dilakukan. Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup bersama alat berat datang ke lokasi untuk mulai membersihkan area Pasar Cimanggis dari tumpukan sampah yang selama ini menjadi momok. Ekspedisi pembersihan ini tidak gampang dan memerlukan waktu serta energi yang tidak sedikit. Para pekerja harus menata dan memindahkan sampah satu per satu, bahkan menggunakan ekskavator untuk mempercepat proses pengangkutan. Sementara itu, di tempat penampungan sementara, pekerja sibuk menambal permukaan tanah agar tidak amblas atau bergeser akibat aktivitas pengangkutan yang intens serta beban sampah yang berat.
Proses ini menjadi semacam titik balik bagi warga dan pedagang di sekitar pasar. Walau belum sepenuhnya selesai, setidaknya pemandangan gunungan sampah yang sempat mencolok kini mulai surut. Beberapa warga yang setiap hari melihat kondisi ini dengan jengkel kini sedikit lega melihat petugas bergerak. Namun, masih ada sisa-sisa sampah yang belum terangkut, terlihat di trotoar sepanjang beberapa ruas jalan sekitar pasar. Warga berharap pengangkutan dapat dipercepat dan dilakukan secara menyeluruh agar kondisi lingkungan kembali bersih dan aktivitas sosial serta ekonomi masyarakat tidak lagi terganggu oleh permasalahan sampah.
Permasalahan sampah di Tangerang Selatan, khususnya di kawasan seperti Pasar Cimanggis dan sekitarnya, sejatinya bukan peristiwa yang pertama kali terjadi. Dalam beberapa bulan terakhir, isu mengenai penumpukan sampah di berbagai titik di kota ini memang pernah muncul, bahkan hingga memenuhi bahu jalan dan trotoar. Permasalahan ini kerap menjadi keluhan warga yang mengharapkan tindakan cepat dan efektif dari pemerintah daerah. Warga bukan hanya melihat sampah sebagai persoalan estetika, tetapi juga sebagai masalah yang berdampak pada kualitas hidup mereka sehari-hari.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan sendiri telah menyatakan permintaan maaf kepada masyarakat atas timbulnya tumpukan sampah di berbagai ruas jalan tersebut. Mereka berjanji bahwa sampah yang masih ada akan diangkut sebelum pergantian tahun, sebagai bagian dari upaya pemulihan layanan kebersihan dan penanganan limbah yang lebih baik. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup warganya. Upaya penataan fasilitas pembuangan akhir, pembangunan fasilitas pengolahan sampah, serta penataan kembali jalur pengangkutan barang-barang sisa diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini secara lebih permanen.
Aktivitas pengangkutan sampah di Pasar Cimanggis menjadi gambaran nyata tentang bagaimana sebuah komunitas dan otoritas setempat harus bekerja sama untuk mengatasi isu yang bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga melibatkan keseharian dan kenyamanan publik. Bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di pasar, proses ini menjadi pelajaran dan refleksi penting bahwa masalah lingkungan adalah persoalan bersama yang memerlukan penyelesaian secara kolektif — bukan hanya bergantung pada satu pihak saja, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di sekitarnya.
Baca Juga:
Sejarah Desa Bedulan Cirebon: Legenda Nyi Mas Baduran dan Persinggahan Pasukan Demak
Dengan demikian, ketika hari-hari berikutnya Pasar Cimanggis kembali bersih dan rapi, di baliknya tersimpan upaya panjang serta kerja keras kolektif dari berbagai pihak untuk mengembalikan fungsi ruang publik sebagai tempat yang layak huni, layak dilihat, dan layak dinikmati oleh semua orang. Semoga peristiwa ini menjadi momentum bagi Tangerang Selatan untuk menciptakan pola pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan, sehingga kejadian serupa tidak lagi terulang di masa mendatang.









