PROLOGMEDIA – Musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun ini menghadirkan pemandangan yang sangat berbeda di salah satu destinasi wisata pantai paling populer di Bali. Pantai yang terletak di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, kini menjadi magnet kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selama beberapa hari terakhir menjelang pergantian tahun, kunjungan wisatawan ke kawasan ini meningkat tajam, menunjukkan tren positif yang menggembirakan bagi pelaku pariwisata dan masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
Pada periode normal, rata-rata pengunjung yang datang ke pantai ini berkisar sekitar 3.000 orang per hari. Namun, saat memasuki pekan libur Nataru ini, jumlah itu meroket menjadi sekitar 6.000 pengunjung setiap harinya — melonjak dua kali lipat hanya dalam beberapa hari terakhir sebelum Natal. Peningkatan ini bukan sekadar angka statistik biasa, namun mencerminkan kebangkitan pariwisata Bali yang sempat terdampak pandemi dan berbagai tantangan global lainnya. Lonjakan ini tampak nyata di sepanjang bibir pantai, area parkir, akses masuk, hingga di berbagai titik fasilitas pendukung wisata lain yang semakin dipenuhi oleh para pelancong dari berbagai penjuru dunia.
Menurut Direktur Utama Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) setempat, fenomena ini merupakan kombinasi dari kekayaan alam pantai itu sendiri dan juga strategi promosi yang semakin cerdas. Ia menyampaikan bahwa sejak tanggal 21 hingga 24 Desember 2025, angka kunjungan harian meningkat drastis, mencerminkan minat wisatawan yang kuat untuk menyambut liburan akhir tahun di destinasi yang terkenal dengan pemandangan tebing batu kapur yang menjulang dan garis pantai yang memukau ini. Untuk menyambut gelombang turis yang makin besar, warga dan pengelola telah menyiapkan berbagai program kegiatan menarik, infrastruktur yang lebih baik, serta layanan yang mengakomodasi kebutuhan wisatawan dari berbagai latar belakang budaya.
Salah satu atraksi menarik yang disiapkan adalah Festival Pandawa XIV, yang dijadwalkan berlangsung mulai 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Festival ini dirancang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ajang untuk menampilkan potensi budaya lokal yang kaya, mulai dari pertunjukan seni tradisional hingga bazar kuliner dan produk kerajinan lokal. Target kunjungan selama festival ini diperkirakan mencapai 75 ribu orang, sebuah angka yang realistis mengingat tren lonjakan kunjungan yang telah terjadi sejak awal liburan. Festival ini menjadi semacam puncak perayaan yang menyatukan pengalaman alam, budaya, dan komunitas setempat dalam suasana Natal dan Tahun Baru yang meriah.
Menariknya, di kalangan wisatawan internasional, pantai ini memiliki julukan unik yang berbeda-beda tergantung negara asal pengunjung. Bagi turis dari India dan Singapura, pantai ini dikenal luas dengan nama “Timbis Beach” dan kadang juga disebut “Tanah Barak”, istilah yang telah populer sejak beberapa tahun terakhir di platform perjalanan internasional dan media sosial. Julukan ini kerap muncul dalam rekomendasi wisata di luar negeri dan menjadi daya tarik tersendiri, membuat destinasi ini semakin dikenal oleh pasar global yang terus mencari pengalaman baru di Bali. Daya tarik ini turut membantu menjelaskan mengapa angka kunjungan turis mancanegara begitu signifikan meningkat pada musim liburan ini dibanding periode sebelumnya.
Baca Juga:
Mulai 2026, Masuk Singapura Tak Semudah Dulu: Ini Alasan di Balik Kebijakan Imigrasi Baru!
Dalam upaya menjaga pengalaman wisata agar tetap optimal, pihak Dinas Pariwisata Provinsi Bali secara intens melakukan pemantauan kesiapan destinasi. Pada tanggal 24 Desember 2025, tim monitoring turun langsung ke lokasi untuk memastikan segala persiapan berjalan baik. Kunjungan ini bertujuan menyerap masukan dari pengelola setempat serta memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan standar yang diharapkan. Termasuk dalam pemantauan ini adalah kesiapan akomodasi di sekitar area wisata, kebersihan fasilitas umum, kesiapan tim keamanan, hingga kesiapan tenaga kesehatan dan layanan publik yang lain.
Selain pantai itu sendiri, hotel-hotel di sekitar kawasan juga menunjukkan dinamika yang menggembirakan. Misalnya, sebuah hotel dengan panorama sunset yang memukau di dekat lokasi pantai melaporkan bahwa tingkat hunian kamar untuk periode akhir tahun mencapai sekitar 80 persen. Angka ini menunjukkan bahwa banyak wisatawan memilih untuk menginap lebih lama dan menikmati suasana liburan di Bali secara maksimal. Untuk menyemarakkan pengalaman tamu yang menginap, hotel tersebut bahkan merencanakan acara khusus yang dinamakan Old and New, sebuah perayaan yang dirancang untuk menyambut pergantian tahun dengan penuh semangat dan kehangatan, menarik tidak hanya para tamu asing tetapi juga wisatawan domestik yang ingin merayakan momen spesial ini dengan gaya berbeda.
Namun, di balik semua itu, tentu ada juga tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah mengenai sistem pungutan wisatawan asing atau tourism levy yang diberlakukan di Bali. Setiap wisatawan asing diwajibkan membayar sejumlah retribusi saat memasuki wilayah Bali, yang tujuannya adalah untuk mendukung infrastruktur dan pelayanan pariwisata di pulau ini. Meskipun kebijakan ini sudah berjalan, masih diperlukan edukasi dan sosialisasi lebih lanjut agar wisatawan asing memahami pentingnya kontribusi tersebut, dan tidak melihatnya semata sebagai beban tambahan. Pengelola hotel dan destinasi diharapkan aktif mengingatkan para pengunjung tentang kewajiban ini, agar kepatuhan menjadi bagian dari pengalaman positif mereka selama liburan.
Pantai ini sendiri memiliki panjang garis pantai mencapai sekitar 3 kilometer, membentang dari area Pantai Gunung Payung hingga area Tanah Barak. Sepanjang garis itu, panorama alam yang ditawarkan sangat memikat: tebing kapur yang tinggi, pasir putih yang bersih, dan ombak yang tenang cocok untuk beragam aktivitas wisata. Wisatawan bisa berjemur, berenang, menikmati pemandangan dari atas tebing, atau sekadar berjalan di bibir pantai sambil menyaksikan matahari terbenam yang spektakuler. Beragam fasilitas seperti tempat makan, spot foto, serta layanan olahraga air pun tersedia untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung.
Kombinasi antara keindahan alam, kekayaan budaya, kampanye promosi yang efektif di luar negeri, serta kesiapan akomodasi dan fasilitas wisata menjadi faktor utama di balik lonjakan kunjungan wisatawan di akhir tahun ini. Bagi masyarakat lokal, momentum ini bukan hanya soal angka pengunjung yang tinggi, tetapi juga tentang peluang ekonomi dan penguatan citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang terus berkembang dan mampu bersaing di kancah pariwisata internasional.
Baca Juga:
Pemerintah Terapkan KRIS Pengganti Kelas BPJS: Dua Opsi Ruang Rawat Inap & Standar Baru 12 Kriteria
Dengan berbagai strategi yang terencana baik dan dukungan penuh dari semua pihak, baik itu pengelola destinasi, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, hingga masyarakat setempat, Bali — khususnya kawasan pantai di Desa Kutuh ini — tampak siap menghadapi tantangan dan peluang yang terus berubah di dunia pariwisata global. Libur Nataru kali ini tidak hanya menjadi momen untuk bersantai atau merayakan, tetapi juga menjadi cerminan kebangkitan pariwisata di tengah dinamika global yang terus bergerak.









