PROLOGMEDIA – Malam itu, langit mendadak muram — awan hitam menggulung, angin menerpa dengan cepat, dan tiba-tiba tetesan hujan berubah menjadi hujan deras menggila. Tanpa ada peringatan panjang, sebuah “air bah” turun dari langit dan menyerbu kota dalam hitungan detik. Warga yang tengah terlelap di rumah masing-masing dikejutkan oleh suara gemuruh air yang mengamuk — deras, ganas, dan tak terduga.
Begitu air meluap, sebagian jalan berubah jadi sungai liar. Rumah-rumah di pemukiman padat segera terendam. Di beberapa tempat, air deras menyeret barang, perabotan, bahkan manusia. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi kekacauan: jeritan ketakutan, suara orang memanggil pertolongan, tangisan dan panik menyatu dalam kegelapan malam.
Ketika air mulai surut keesokan harinya — perlahan-lahan — pemandangan yang tersisa mengerikan. Di mana semalam ada harapan dan kehidupan biasa, kini terhampar tubuh-tubuh tak bernyawa, tergeletak di jalan, di trotoar, atau bahkan di ruang tamu rumah yang sempat terisi air. Mayat-mayat ditemukan bergelimpangan — beberapa di antara mereka korban yang tidak sempat menyelamatkan diri dari derasnya arus, atau terperangkap saat berusaha menyelamatkan anggota keluarga lain.
Warga yang selamat hanya bisa menyaksikan kehancuran sambil dibungkus rasa duka dan trauma. Para keluarga kehilangan orang terkasih, rumah hancur, kenangan dan harta benda lenyap dalam satu malam. Orang-orang yang tadi malam masih tertawa bersama, kini berduka bersama — tercabik oleh tragedi alam yang datang begitu cepat.
Sejumlah saksi menggambarkan bahwa peristiwa itu bagai laut yang tiba-tiba mengamuk — gelombang air setinggi pinggang atau lebih menyeret segalanya dalam putarannya. Seseorang yang sempat merekam suasana dramatis malam itu mengatakan: “Dalam hitungan detik, jalanan sudah seperti sungai. Saya lihat air datang seperti tsunami kecil — dan saya lari, tapi banyak yang tak sempat.”
Baca Juga:
Pengamat Nilai Program Bang Andra Banten: Efektif Tingkatkan Ekonomi Desa, Berpotensi Diterapkan Nasional
Saat fajar merekah, petugas dari berbagai instansi mulai datang: tim SAR, relawan, aparat keamanan. Mereka menyisir jalan, rumah, gang, dan pemukiman — mencari korban, mengevakuasi penyintas, mendata kerusakan. Suara sirene dan tangisan menjadi latar belakang haru bagi upaya penyelamatan yang penuh keterbatasan.
Di tengah upaya keras itu, warga bahu-membahu. Para tetangga yang selamat menawarkan tempat tinggal sementara, berbagi makanan, selimut, dan air bersih. Sebagian membantu mengangkat puing, sebagian lagi mencoba menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan — walaupun sebagian besar rumah sudah luluh lantak.
Sementara itu, muncul rasa tanya besar: bagaimana bisa air secepat itu membanjiri kota? Beberapa warga curiga hujan ekstrem disertai longsor di hulu sungai — menyebabkan aliran air tersumbat lalu meledak ke hilir dengan kekuatan dahsyat. Banyak juga yang menyebut bahwa drainase kota tidak mampu menampung debit air sedemikian besar, sehingga air langsung meluap ke permukiman.
Kejadian ini menyisakan luka mendalam — bukan hanya bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang harus menyaksikan kesedihan dan kehancuran. Dalam sekejap, kehidupan berubah total: yang semula aman dan hangat menjadi suram, hampa, dan dingin oleh air dan kehilangan.
Di tengah duka dan repotnya upaya pemulihan, satu hal yang jelas: tragedi malam itu mengingatkan kita bahwa alam, dalam sekejap, bisa menunjukkan kekuatannya yang mengerikan. Bersama rasa sedih dan kehilangan, muncul pula kesadaran bahwa kita perlu lebih waspada terhadap potensi bencana — cuaca ekstrem, hujan lebat, longsor, dan sistem drainase yang rentan.
Baca Juga:
Pabrik Aqua Berdiri, Sumur Warga Caringin Bogor Kering! Kini Harus Bayar Rp 70 Ribu/Bulan untuk Air yang Hanya Ada Siang Hari”l
Kini, banyak warga yang berharap agar tragedi semacam ini menjadi pelajaran pahit — agar pemerintah dan masyarakat sama-sama memperkuat kesiagaan: memperbaiki sistem drainase, menjaga kelestarian lingkungan di hulu sungai, dan membangun sistem peringatan dini. Sebab malam itu, ketika air bah datang tanpa ampun, banyak nyawa melayang — dan kota yang semula hidup menjadi hening penuh duka.









