PROLOGMEDIA – Pagi itu, di sepanjang Jl RE Martadinata, Jakarta Utara, air pasang laut — dikenal sebagai rob — mendadak naik hingga mencapai sekitar 15 sampai 20 centimeter. Genangan air itu meliputi jalur dari kawasan PLTU hingga pertigaan rel KA-Stadion JIS, mengubah trotoar dan badan jalan menjadi seperti sungai dangkal. Kondisi ini memaksa pengguna jalan untuk memperlambat laju kendaraan mereka — sebagian besar sepeda motor memilih melewati lajur kiri — dan sempat menyebabkan kemacetan lalu lintas di lokasi.
Meski demikian, air tidak sampai menutup total jalan. Menurut pengamatan petugas di lapangan, meskipun kendaraan masih bisa melintas, kecepatan harus dikurangi. Akibatnya, arus lalu lintas tersendat dan suasana pagi yang biasanya sibuk menjadi lebih lambat dari biasanya, terutama karena sebagian besar kendaraan roda dua menahan laju mereka sambil memilih jalur teraman di sisi kiri jalan.
Beruntung, tak sampai berjam-jam genangan tersebut berubah arus banjir besar — pihak berwenang segera menindaklanjuti dengan menurunkan tim dari Dinas Sumber Daya Air (SDA), yang langsung mengerahkan mobil pompa untuk menyedot air. Berkat upaya cepat ini, air perlahan surut dan kondisi lalu lintas pun kembali berangsur normal dalam beberapa waktu setelahnya.
Fenomena rob di pesisir Jakarta — termasuk di Jakarta Utara — bukan hal asing. Beberapa waktu lalu, pada periode ketika air laut pasang maksimum dan terjadi fase bulan purnama atau bulan baru, permukaan laut dapat meningkat signifikan, sehingga memicu genangan di sejumlah titik pesisir. Hal ini juga dipicu oleh kondisi tanggul pantai yang belum sepenuhnya tuntas pengerjaannya di beberapa lokasi.
Kenaikan air laut secara mendadak seperti ini adalah pengingat betapa rentannya kawasan pesisir Jakarta terhadap pasang surut air laut — terutama ketika fase bulan atau faktor alam lainnya mendukung. Meski skala genangan pagi ini tergolong sedang, dampaknya tetap terasa nyata: kemacetan, akses jalan terhambat, dan potensi gangguan bagi pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sehari-hari.
Baca Juga:
Perjuangan Pensiunan Guru yang Kehilangan Tabungan karena Penipuan Investasi
Situasi ini dihadapi warga dan pengguna jalan dengan kewaspadaan: mereka terpaksa menyesuaikan kecepatan, memilih jalur yang lebih aman, atau bahkan menunda perjalanan bila memungkinkan. Bagi pengendara roda dua misalnya, memilih lajur kiri terasa seperti solusi paling praktis agar tetap bisa melintas sambil menjaga keamanan.
Sementara itu, petugas dari Dinas SDA dan instansi terkait sudah siaga dengan memantau titik-titik rawan genangan. Pompa air disiagakan untuk segera merespons bila rob datang — seperti pagi ini — sehingga genangan bisa tersedot sebelum mengganggu aktivitas warga terlalu lama. Respons cepat ini terbukti efektif dalam meredakan kondisi: tak butuh waktu lama sampai air surut dan arus lalu lintas lambat kembali lancar.
Namun, upaya memasang tanggul serta memperbaiki infrastruktur di kawasan pesisir tetap menjadi tugas berat bagi pemerintah dan warga. Mengingat pola pasang surut laut bisa terjadi berulang, terutama pada saat fase bulan tertentu, dibutuhkan kesiagaan ekstra agar dampak rob tidak mengganggu mobilitas warga secara signifikan.
Selain tantangan infrastruktur, adaptasi masyarakat juga penting. Banyak warga yang mungkin perlu menyusun strategi — seperti menghindari perjalanan di waktu tertentu, menggunakan jalur alternatif, atau memantau informasi cuaca dan pasang laut — untuk meminimalkan risiko terjebak genangan saat rob datang.
Kondisi pagi itu di Jl RE Martadinata mungkin sudah kembali normal. Tapi pengalaman tersebut menjadi pengingat nyata bahwa rob bisa muncul kapan saja, dan bahwa koordinasi serta respons cepat antar petugas dan warga menjadi kunci untuk mengatasi dampaknya.
Baca Juga:
Satgas PKH Berhasil Kuasai Kembali Lebih dari 4 Juta Hektare Kawasan Hutan dalam Waktu Singkat
Ke depan, menyusul potensi pasang maksimum laut pada beberapa waktu mendatang, upaya mitigasi seperti penyediaan pompa, perbaikan tanggul, dan koordinasi antar instansi terkait akan sangat menentukan. Begitu pula kesadaran warga untuk menyesuaikan mobilitas — agar keselamatan dan kelancaran tetap terjaga, meskipun air laut mencoba kembali merebut gravitasi daratan pesisir ibu kota.









