Menu

Mode Gelap

Blog · 21 Des 2025 23:35 WIB

Cara Cerdas Hemat Token Listrik Rp 100.000 Bisa Tahan Hingga 49 Hari


 Cara Cerdas Hemat Token Listrik Rp 100.000 Bisa Tahan Hingga 49 Hari Perbesar

PROLOGMEDIA – Bagi banyak anak kos di kota besar, biaya hidup selalu menjadi tantangan tersendiri. Terutama biaya yang sifatnya rutin dan tak bisa dihindari, seperti listrik. Ketika membeli token listrik prabayar dengan nilai Rp 100.000, tak jarang saldo tersebut habis dalam hitungan minggu, bahkan kurang dari dua minggu, tergantung pola pemakaian sehari-hari. Kondisi ini terasa berat, apalagi jika harus membagi pengeluaran antara kebutuhan makan, transportasi, dan kebutuhan kuliah lainnya. Namun belakangan ini muncul perhitungan menarik yang menunjukkan bahwa dengan strategi penggunaan yang tepat, saldo listrik sebesar Rp 100.000 bisa tahan sampai 49 hari untuk anak kos, atau hampir satu setengah bulan. Angka ini tentu membuat banyak orang berpikir ulang tentang bagaimana kebiasaan mereka dalam menggunakan listrik sehari‑hari.

Permasalahan ini bukan sekadar hitungan angka semata, tetapi juga menyentuh cara berpikir mengenai efisiensi energi dan penggunaan listrik yang lebih bijak. Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta, Toto Sukisno, yang memberikan pandangan teknisnya kepada tim riset, menjelaskan bahwa anak kos dengan beban pemakaian “standar” biasanya membutuhkan listrik sekitar 1,45 kWh per hari. Berdasarkan angka ini, seorang anak kos dengan kamar berdaya 900 VA bisa memaksimalkan pembelian token listrik Rp 100.000 hingga mencapai hampir 7 minggu masa pakai. Perhitungannya sederhana: total kWh yang diperoleh dari pembelian token Rp 100.000 dikurangi pajak, lalu dibagi rata dengan kebutuhan konsumsi per hari. Hasilnya menunjukkan bahwa jika konsumsi ditahan di angka sekitar 1,45 kWh per hari, token listrik itu bisa cukup sampai 49 hari.

Perhitungan ini tentu menjadi bahan pembicaraan menarik di kalangan mahasiswa dan anak kos yang selama ini mengeluhkan durasi penggunaan listrik yang cepat habis. Bayangkan saja, jika tiap akhir bulan harus mengeluarkan Rp 100.000 hanya untuk listrik, itu berarti pengeluaran tahunan mencapai lebih dari Rp 1.200.000. Dengan perhitungan hemat seperti ini, pengeluaran tersebut bisa ditekan hampir setengahnya, bahkan lebih jika ditambah dengan kebiasaan hemat lainnya.

Sebelum masuk ke strategi hematnya, penting untuk memahami bagaimana token listrik dihitung dan digunakan. Di sistem listrik prabayar, pelanggan membeli sejumlah nominal token sesuai kebutuhan — mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 1 juta. Nominal ini kemudian dikonversi menjadi satuan energi listrik, yaitu kilowatt‑hour (kWh), yang akan tercatat di meteran listrik kamar kos atau rumah tinggal. Namun dalam proses konversi itu, ada komponen biaya lain yang ikut mengurangi nilai yang bisa dipakai, seperti Pajak Penerangan Jalan (PPJ). Di Jakarta, misalnya, PPJ untuk daya 900–2.200 VA adalah sekitar 2,4 persen dari nilai token yang dibeli. Dengan kata lain, dari pembelian Rp 100.000 itu, sekitar Rp 2.400 akan dipotong sebagai pajak, dan sisanya baru dikonversi menjadi kWh yang bisa dipakai. Dengan tarif listrik sekitar Rp 1.352 per kWh di daerah tersebut, token Rp 100.000 bisa memberikan sekitar 72,19 kWh listrik yang bisa dimanfaatkan.

Lalu timbul pertanyaan: bagaimana cara supaya kWh ini bertahan hingga 49 hari? Di sinilah peran kebiasaan penggunaan listrik menjadi sangat penting. Menurut pakar, prinsip dasar yang harus dipahami adalah bahwa setiap peralatan listrik yang dinyalakan akan menyedot daya, dan semakin sering atau semakin lama perangkat itu digunakan, semakin cepat pula token listrik akan habis. Kebiasaan kecil seperti membiarkan kipas menyala saat kamar kosong, atau menyalakan lampu lebih dari yang diperlukan, bisa membuat saldo listrik terkuras tanpa disadari.

Baca Juga:
Rayap Mengancam Rumah? Ini Cara Mudah dan Efektif Membasminya Tanpa Ribet

Oleh karena itu, langkah pertama dalam strategi hemat listrik adalah mematikan semua peralatan yang tidak sedang digunakan. Ini mungkin terdengar simpel, tetapi dalam kehidupan sehari‑hari, seringkali kita lupa melakukan hal kecil ini. Banyak perangkat yang masih menyala atau dalam keadaan standby walaupun tidak sedang dipakai, seperti televisi, charger ponsel yang masih tertancap, atau lampu yang dibiarkan menyala saat ruangan tidak berpenghuni. Dengan disiplin mematikan perangkat‑perangkat ini, konsumsi listrik harian bisa ditekan secara signifikan.

Selain kebiasaan, pemilihan perangkat elektronik juga memegang peranan penting dalam efisiensi energi. Pakar menyarankan agar anak kos memilih peralatan elektronik yang hemat energi. Saat ini banyak produk AC, kipas, atau kulkas yang dilengkapi label efisiensi energi dengan bintang yang menunjukkan seberapa hemat perangkat tersebut dalam pemakaian listrik. Perangkat berlabel “5 bintang” misalnya, biasanya dirancang untuk menggunakan listrik lebih sedikit dibandingkan perangkat biasa dengan kapasitas yang sama. Meski harga awalnya mungkin sedikit lebih mahal, investasi ini bisa terbayar dalam jangka panjang dengan penghematan konsumsi listrik yang signifikan.

Selain itu, pakar juga menekankan pentingnya menghindari penggunaan perangkat yang rusak atau sudah diperbaiki secara tidak tepat. Perangkat yang rusak atau motor listrik yang telah dililit ulang secara tidak profesional berpotensi menyedot lebih banyak listrik karena efisiensinya menurun. Bahkan jika perangkat sudah diperbaiki, asal‑asalan dalam perbaikan bisa membuat konsumsi listrik menjadi lebih boros daripada perangkat yang masih dalam kondisi baik. Dengan kata lain, menjaga kondisi peralatan listrik agar tetap efisien secara teknis juga menjadi bagian dari strategi hemat listrik yang efektif.

Strategi lain yang membantu memperpanjang masa pakai token adalah mengatur penggunaan peralatan yang memiliki daya besar dengan bijak. Misalnya, penggunaan AC yang sering menjadi “biang kerok” dalam konsumsi listrik anak kos bisa diatur pada waktu‑waktu tertentu dan pada tingkat suhu yang wajar. Mengatur AC pada suhu yang tidak terlalu rendah, serta memastikan ruangan tertutup rapat agar kinerja pendinginan lebih efisien, bisa membantu mengurangi konsumsi listrik. Begitu pula dengan alat lain seperti mesin cuci atau setrika, penggunaan alat‑alat ini sebaiknya direncanakan sehingga tidak digunakan bersamaan dengan perangkat lain yang juga menyedot listrik besar.

Semua strategi di atas mengarah pada satu kesimpulan penting: hemat listrik bukan hanya soal “lebih sedikit memakai listrik”, tetapi juga soal “lebih cerdas menggunakan listrik.” Ketika anak kos mulai memperhatikan hal‑hal kecil seperti mematikan lampu saat keluar kamar, memilih perangkat hemat energi, serta mengatur penggunaan alat listrik berdasarkan kebutuhan, bukan saja masa pakai token Rp 100.000 bisa mencapai 49 hari, tetapi pengeluaran bulanan pun bisa lebih optimal.

Baca Juga:
Bau Badan Lansia: Fakta, Penyebab, dan Cara Ampuh Mengatasinya!

Lebih jauh lagi, kebiasaan hemat listrik seperti ini juga mendorong kesadaran yang lebih luas tentang penggunaan energi yang bertanggung jawab. Tidak hanya mengurangi beban biaya bulanan, tetapi juga membantu mengurangi konsumsi energi secara keseluruhan, suatu kontribusi kecil namun berarti terhadap lingkungan.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog