JAKARTA – Ilmuwan asal China mencatatkan sejarah baru dalam dunia eksplorasi laut dalam dengan menjadi yang pertama mengunjungi dan meneliti secara intensif punggung gunung berapi bawah laut di Samudra Arktik, sebuah wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu tempat paling terpencil dan menantang di Bumi. Ekspedisi yang berakhir pada akhir Oktober 2025 ini telah membuka cakrawala baru dalam pemahaman kita tentang geologi laut dalam, kehidupan di lingkungan ekstrem, dan potensi asal-usul kehidupan di planet lain.
Tim ilmuwan China menjelajahi bagian timur punggungan Gakkel, sebuah segmen penting dari sistem pegunungan bawah laut global yang memiliki peran krusial dalam proses lempeng tektonik. Punggung gunung Gakkel membentang dari lepas pantai Greenland hingga wilayah Siberia, membentuk perbatasan di mana kerak dasar laut baru tercipta melalui letusan gunung berapi. Proses ini berlangsung dengan sangat lambat, bahkan tercatat sebagai yang paling lambat di planet ini. Namun, meskipun demikian, aktivitas geologi yang lamban ini mampu menghasilkan panas dan energi kimia yang cukup untuk menopang keberadaan ventilasi hidrotermal di dasar laut.
Untuk mencapai tujuan ambisius ini, tim ilmuwan menggunakan kapal selam berawak laut dalam bernama Fendouzhe, yang dipasangkan dengan kapal pemecah es. Fendouzhe, yang sebelumnya telah menjelajahi berbagai bagian lautan, termasuk Palung Mariana yang sangat dalam, melakukan lebih dari 40 penyelaman ke dasar laut Arktik, mencapai kedalaman maksimum 5.277 meter. Ini adalah kali pertama Fendouzhe mengunjungi wilayah Arktik yang dingin dan penuh tantangan.
Ekspedisi ini bukan tanpa risiko. Kondisi lingkungan yang ekstrem, termasuk suhu yang sangat rendah, tekanan air yang tinggi, dan keberadaan es laut yang mengapung, menghadirkan tantangan tersendiri bagi para ilmuwan dan kru kapal selam. Sebelumnya, ekspedisi lain telah menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) untuk menjelajahi Punggungan Gakkel, karena bahaya kendaraan terperangkap di bawah es laut yang mengapung.
Namun, tim ilmuwan China memilih untuk menggunakan kapal selam berawak, yang memungkinkan mereka untuk melakukan pengamatan dan pengambilan sampel secara langsung di dasar laut.
Setiap penyelaman Fendouzhe membawa tiga orang, biasanya dua pilot dan satu ilmuwan. Kapal selam memasuki lautan melalui celah sementara di es laut. Setelah turun dan mempelajari dasar laut, kapal selam naik dan berhenti 150-200 meter di bawah permukaan laut, lalu menggunakan kamera dan sistem sonar multi-beam untuk mendeteksi celah di es di atasnya.
Terkadang, ketika celah tidak muncul secara alami, kapal pemecah es akan menciptakannya dengan membersihkan sebagian es yang mengapung.
Meskipun berisiko, kepala ilmuwan ekspedisi, Xiaoxia Huang, mengaku tidak pernah merasa takut.
“Sungguh suatu keistimewaan bisa mendapat kesempatan seperti ini untuk menjelajahi dasar laut secara langsung,” ujarnya.
Lokasi penyelaman dipilih untuk menargetkan area-area yang menarik secara geologis, termasuk gunung laut dan tebing. Para peneliti juga mempelajari ikan dan makhluk laut lainnya yang hidup di lingkungan ekstrem tersebut.
Salah satu tujuan utama dari ekspedisi ini adalah untuk mencari bukti keberadaan ventilasi hidrotermal di bagian timur punggungan Gakkel. Ventilasi hidrotermal adalah retakan di dasar laut yang mengeluarkan air panas yang kaya akan mineral dari dalam bumi. Ventilasi ini menjadi rumah bagi ekosistem unik yang tumbuh subur jauh dari jangkauan sinar Matahari, memperoleh energi dari proses kimia yang disebut kemosintesis.
Pada tahun 2001, sebuah ekspedisi dari Amerika Serikat dan Jerman menemukan ventilasi hidrotermal di bagian barat punggungan Gakkel. Para peneliti telah kembali beberapa kali ke area tersebut untuk mempelajari kekayaan kimia dan biologi sistem ventilasi yang dalam dan gelap tersebut.
Baca Juga:
Hiu Tutul Raksasa Terdampar di Purworejo, Panikkan Warga Pagi Ini
Ventilasi ini memberi para ilmuwan beberapa peluang terbaik untuk memahami bagaimana kehidupan mungkin muncul dan berevolusi di lautan es di dunia di luar Bumi, seperti di bulan Jupiter yang berlapis es, Europa.
Analisis terhadap sampel bebatuan, air, dan hewan yang dikumpulkan selama penyelaman bawah air masih jauh dari selesai dan diperkirakan akan memakan waktu beberapa tahun ke depan. Namun, para ilmuwan sangat antusias dengan potensi penemuan baru yang dapat memberikan wawasan yang signifikan tentang lingkungan Arktik yang unik ini. Xiaoxia Huang menolak memberikan rincian tentang kemungkinan penemuan ventilasi hidrotermal, dan mengatakan data masih dianalisis.
Christopher German, ahli geokimia kelautan di Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts, menyatakan bahwa sangat sulit untuk sampai ke sana sehingga apa pun yang dilakukan hampir pasti akan menarik, berbeda, dan baru. Elmar Albers, ahli geosains kelautan di Alfred Wegener Institute di Bremerhaven, Jerman, menambahkan bahwa ekspedisi China siap menghasilkan wawasan baru yang signifikan.
Ekspedisi yang diselenggarakan oleh Ministry of Natural Resources and the Chinese Academy of Sciences ini telah menunjukkan kemampuan China dalam eksplorasi laut dalam dan komitmennya untuk memajukan pengetahuan ilmiah tentang lautan. Penjelajahan Punggung gan Gakkel oleh para ilmuwan China ini tidak hanya memberikan kontribusi penting bagi pemahaman kita tentang Bumi, tetapi juga membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut terhadap lingkungan ekstrem di planet kita dan di luar angkasa.
Penemuan potensi ventilasi hidrotermal di bagian timur punggungan Gakkel memiliki implikasi yang sangat besar. Ventilasi ini dapat menjadi rumah bagi mikroorganisme unik yang mampu bertahan hidup dalam kondisi yang sangat ekstrem, seperti suhu tinggi, tekanan tinggi, dan kegelapan total. Studi tentang organisme ini dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana kehidupan dapat muncul dan berevolusi di lingkungan yang keras di Bumi purba, serta di planet dan bulan lain di tata surya kita.
Selain itu, penelitian tentang ventilasi hidrotermal juga dapat membantu kita memahami lebih lanjut tentang siklus biogeokimia di lautan. Ventilasi ini melepaskan berbagai macam mineral dan gas ke dalam air laut, yang dapat mempengaruhi komposisi kimia lautan dan iklim global. Dengan mempelajari proses ini, kita dapat mengembangkan model yang lebih akurat tentang bagaimana lautan berinteraksi dengan atmosfer dan bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi ekosistem laut dalam.
Ekspedisi China ke punggungan Gakkel juga memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teknologi eksplorasi laut dalam. Penggunaan kapal selam berawak laut dalam seperti Fendouzhe memungkinkan para ilmuwan untuk melakukan pengamatan dan pengambilan sampel secara langsung di dasar laut, yang tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh.
Teknologi ini dapat digunakan untuk menjelajahi wilayah laut dalam lainnya di Bumi, seperti palung laut dalam dan gunung berapi bawah laut, yang menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan.
Selain itu, pengalaman yang diperoleh selama ekspedisi ini dapat digunakan untuk mengembangkan teknologi yang lebih canggih untuk eksplorasi laut dalam di planet lain. Misalnya, para ilmuwan sedang mengembangkan robot otonom yang dapat menjelajahi lautan es di bulan Europa dan mencari bukti kehidupan di sana.
Teknologi ini didasarkan pada teknologi yang digunakan untuk menjelajahi laut dalam di Bumi, tetapi telah dimodifikasi untuk mengatasi tantangan unik yang dihadapi di lingkungan luar angkasa.
Dengan keberhasilan ekspedisi ke punggungan Gakkel, China telah membuktikan diri sebagai pemimpin dalam eksplorasi laut dalam dan telah membuka jalan bagi penemuan dan inovasi lebih lanjut di bidang ini.
Baca Juga:
Pemerintah Banten Tegas Tertibkan Truk Tambang: Wajib Mutasi Pelat dan Patuh Jam Operasional
Penelitian tentang wilayah terpencil dan menantang ini tidak hanya akan meningkatkan pemahaman kita tentang Bumi, tetapi juga akan membantu kita mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang asal-usul kehidupan dan potensi keberadaan kehidupan di planet lain. Ekspedisi ini merupakan langkah penting menuju masa depan di mana kita dapat menjelajahi dan memahami lautan di Bumi dan di luar angkasa dengan lebih baik.









