PROLOGMEDIA – Banyak orang — terutama pecinta kuliner lokal — sering mempertanyakan: apakah ceker ayam mengandung kolesterol? Kekhawatiran ini semakin besar karena ceker ayam banyak dijadikan camilan, lauk sop, atau digoreng crispy, dan sering disantap secara santai. Agar tak cuma jadi rumor, penting untuk melihat fakta berdasarkan data nutrisi dan pendapat ahli secara jernih.
Ceker ayam memang mengandung kolesterol. Berdasarkan data nutrisi dari berbagai sumber, dalam 100 gram ceker ayam terdapat sekitar 84 miligram kolesterol. Hal ini setara dengan kurang lebih 20 persen kebutuhan kolesterol harian orang dewasa jika satu orang mengonsumsi 100 gram — dengan catatan bahwa kebutuhan harian kolesterol ideal tentu bisa berbeda tergantung kondisi tubuh dan pola makan.
Selain kolesterol, ceker ayam juga menyimpan kandungan lain yang memberi potensi manfaat. Ceker kaya akan protein — sekitar 19–20 gram per 100 gram — dan didominasi oleh kolagen. Profesor dari IPB University, misalnya, menyebut bahwa sekitar 70 persen dari total protein ceker ayam adalah kolagen, sebuah protein struktural penting bagi kulit, tendon, tulang, otot, dan ligamen. Selain itu, ceker ayam turut mengandung mineral seperti kalsium, fosfor, dan juga beberapa vitamin — menjadikannya sebagai salah satu sumber protein dan nutrisi bagi mereka yang mengonsumsinya.
Namun, “manfaat” ini tak bisa dilepaskan dari “risiko”, terutama jika ceker ayam dikonsumsi dalam jumlah banyak atau terlalu sering. Ahli gizi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya mengingatkan bahwa konsumsi yang berlebihan — misalnya lebih dari tiga kali per minggu, atau dengan jumlah porsi besar secara terus menerus — bisa menaikkan kadar kolesterol darah secara signifikan. Jika ini berlangsung terus-menerus, ada potensi tubuh mudah lelah, dan dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke atau gangguan jantung.
Baca Juga:
Polda Jatim dan Polres Lumajang Evakuasi Barang Berharga Warga Terdampak Erupsi Semeru
Menilik cara pengolahan juga penting. Bila ceker ayam digoreng, terutama deep-fried, ini dapat memberi lemak tambahan — termasuk lemak tak sehat atau bahkan lemak trans — yang justru memperburuk profil kolesterol dalam darah. Di sisi lain, jika diolah dengan cara lebih sehat — misalnya direbus, dikukus, atau dijadikan sup — Anda bisa tetap mendapatkan manfaat protein dan kolagen dengan tingkat kolesterol dan lemak yang lebih terkontrol.
Meski demikian, bukan berarti ceker ayam “haram” atau sepenuhnya berbahaya. Konsumsinya bisa masuk dalam pola makan yang sehat asalkan dilakukan secara bijak dan terukur. Bila Anda memperhatikan jumlah konsumsi, frekuensi, dan cara memasak, ceker bisa menjadi bagian dari diet seimbang — terutama bagi mereka yang membutuhkan tambahan protein, kolagen, atau mineral seperti kalsium dan fosfor.
Sebagai alternatif bagi mereka yang tetap ingin mendapatkan asupan protein dan kolagen namun mengurangi risiko kolesterol, bisa mempertimbangkan sumber protein lain seperti ikan, tahu, tempe, atau daging tanpa lemak. Ini bisa membantu menjaga asupan kolesterol tetap wajar tanpa kehilangan manfaat nutrisi.
Baca Juga:
Binuang dan TNI AU Gorda Bersatu dalam Bakti Sosial dan Karya Bakti
Kesimpulannya: ya — ceker ayam memang mengandung kolesterol, dan jika dikonsumsi tanpa kontrol bisa berdampak pada kesehatan. Tapi jika dikonsumsi dengan bijak — memperhatikan porsi, frekuensi, dan cara pengolahan — ceker ayam tetap bisa menjadi bagian dari diet bergizi dan seimbang.









