PROLOGMEDIA – Pemerintah Indonesia tengah mengakselerasi langkah strategisnya dalam memperluas program hilirisasi industri kelapa, sebuah komoditas yang selama ini dikenal sebagai bahan mentah yang diproduksi secara masif tetapi nilainya belum dirasakan secara maksimal oleh para pelaku usaha dan petani. Dari istana kepresidenan di Jakarta, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dengan penuh optimisme dan keyakinan tinggi, menegaskan bahwa hilirisasi kelapa bukan hanya menjadi wajah baru dalam pengembangan sektor pertanian, tetapi juga merupakan tonggak penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak lagi memusatkan perhatian pada sektor pertambangan semata, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan untuk berperan lebih besar dalam perekonomian negara.
Menurut Amran, potensi industri kelapa di Indonesia sangat luar biasa dan belum sepenuhnya tergali. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, tetapi produk kelapa seringkali hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Padahal, jika diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti santan, minyak kelapa murni (virgin coconut oil), nata de coco, tepung kelapa, atau air kelapa, nilai ekonomi yang bisa dihasilkan jauh lebih signifikan. Pemerintah pun yakin bahwa melalui hilirisasi, nilai tambah kelapa bisa meningkat berkali-kali lipat—bahkan sampai ratusan kali lipat dibandingkan menjualnya dalam bentuk mentah.
Langkah awal dalam program hilirisasi ini dimulai dari dua wilayah strategis, yakni Maluku Utara dan Morowali, Sulawesi Tengah. Di Maluku Utara, sebuah pabrik pengolahan kelapa yang sudah beroperasi berhasil menunjukkan hasil yang menggembirakan. Industri ini telah mampu memproduksi berbagai macam produk olahan kelapa yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mulai menembus pasar internasional. Produk-produk olahan dari kelapa asal Maluku Utara bahkan telah dikirim ke China, suatu pencapaian yang menunjukkan bahwa industri hilirisasi kelapa Indonesia kini sudah mampu bersaing di pasar global dan menarik minat konsumen luar negeri dengan kualitas produknya yang tinggi. Dengan keberhasilan ini, pemerintah berencana membuka dua unit pabrik pengolahan lainnya dalam waktu dekat agar kapasitas produksi dan skala industri semakin besar dan merata di berbagai wilayah.
Untuk memperkuat hilirisasi kelapa di Maluku Utara, pemerintah bahkan menyiapkan program pengembangan lahan kelapa seluas 10.000 hektare yang akan dimulai pada tahun 2026. Program ini dirancang tidak hanya untuk menambah luas perkebunan kelapa, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani setempat. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan berbasis daerah dan memastikan bahwa petani merasakan langsung dampak positif dari peningkatan nilai tambah produk hasil kebunnya. Dengan adanya program pengembangan lahan baru, diharapkan produksi kelapa di Maluku Utara semakin meningkat dan mampu memasok kebutuhan industri pengolahan secara optimal.
Pembangunan pabrik-pabrik pengolahan kelapa di Morowali menjadi salah satu fokus utama dalam upaya memperluas hilirisasi. Nilai investasi untuk pembangunan fasilitas di Morowali ini mencapai sekitar US$100 juta, setara dengan lebih dari Rp1,6 triliun, yang merupakan komitmen dari pihak investor untuk membangun industri turunan kelapa di Indonesia. Investor utama yang terlibat dalam proyek ini adalah Zhejiang FreeNow Food Co. Ltd., perusahaan China yang bergerak di industri makanan dan minuman berbahan dasar kelapa, bekerjasama dengan konsorsium perusahaan Indonesia, termasuk BPI Danantara Indonesia. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya membuka peluang investasi asing di sektor hilirisasi kelapa, tetapi juga mampu menarik minat perusahaan multinasional untuk berpartisipasi dalam pengembangan industri nasional yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Banten Jadi Magnet Investasi! Andra Soni: Stabilitas Kunci Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Pabrik pengolahan kelapa di Morowali nantinya diperkirakan akan menyerap hingga 500 juta butir kelapa setiap tahunnya, angka yang mencerminkan skala produksi yang besar dan potensi integrasi dengan pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, fasilitas ini diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 10 ribu tenaga kerja, yang berarti kontribusi besar bagi penyerapan tenaga kerja lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru di wilayah Sulawesi Tengah. Pembangunan pabrik ini diharapkan rampung dan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2026, menandakan kemajuan dalam program hilirisasi kelapa yang dipercepat pemerintah.
Komitmen untuk hilirisasi kelapa Indonesia turut didukung oleh upaya pemerintah setempat. Di Maluku Utara, misalnya, Badan Bank Tanah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan terlantar dan tanah hasil pelepasan kawasan hutan yang belum tergarap. Kerja sama ini bertujuan agar lebih banyak lahan bisa dimanfaatkan untuk pertanian kelapa dan industri pengolahan, sehingga pertumbuhan industri kelapa di provinsi kepulauan ini semakin kuat dan berkelanjutan. Dukungan tersebut sejalan dengan visi Gubernur Maluku Utara yang ingin mengembangkan potensi kelapa secara maksimal dan menjadikan provinsi ini sebagai pusat hilirisasi kelapa di Indonesia.
Keberhasilan hilirisasi kelapa bukan hanya dilihat dari pertumbuhan ekspor dan peningkatan produksi saja, tetapi juga dari efek berganda yang dirasakan oleh masyarakat lokal. Produk kelapa olahan memberi nilai ekonomi jauh lebih tinggi dibanding bahan mentah. Sebagai ilustrasi, harga kelapa mentah biasa di tingkat petani saat ini hanya berkisar beberapa ribu rupiah per butir, sedangkan setelah diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti air kelapa premium atau minyak kelapa murni, nilainya bisa meningkat puluhan kali lipat. Kenaikan ini langsung berdampak pada peningkatan pendapatan petani serta penguatan ekonomi masyarakat di sekitar areal perkebunan dan pabrik pengolahan.
Selain memberi manfaat ekonomi langsung, hilirisasi kelapa juga membantu menciptakan ekosistem industri yang lebih kuat, termasuk pengembangan UMKM turunan kelapa, seperti produksi makanan dan minuman berbasis kelapa, kerajinan dari tempurung kelapa, serta produksi kosmetik berbahan dasar minyak kelapa. Hal ini membuka pintu bagi inovasi baru, peluang usaha, dan diversifikasi produk yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi produksi nasional.
Program hilirisasi kelapa ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui pengembangan sektor-sektor non-mineral yang selama ini kurang mendapat perhatian. Dengan memanfaatkan sumber daya alam berkelanjutan seperti kelapa, pemerintah berharap perekonomian Indonesia dapat tumbuh lebih inklusif, merata, serta mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil dan daerah luar Jawa.
Baca Juga:
Mengapa Kardio Monoton Baik untuk Otak: Rahasia Lari Stabil yang Menyembuhkan Saraf dan Meningkatkan Fokus
Pada akhirnya, hilirisasi kelapa menjadi lebih dari sekadar program industrialisasi—program ini merupakan simbol perubahan paradigma dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pemain global dalam industri produk bernilai tinggi. Dengan perencanaan matang, dukungan investasi, serta sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memanfaatkan potensi kelapa secara optimal, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat posisi Indonesia di pasar dunia.









