JAKARTA – Di tengah upaya global untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai target netral karbon, industri batu bara Indonesia menghadapi tantangan baru. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan bahwa produksi batu bara nasional pada tahun 2026 akan mengalami penurunan signifikan dibandingkan target produksi tahun 2025. Penurunan ini diperkirakan akan membawa produksi batu bara Indonesia ke bawah angka 700 juta ton.
Proyeksi ini muncul seiring dengan melemahnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor utama, seperti China dan India. Kedua negara ini merupakan pasar utama bagi batu bara Indonesia, dan penurunan permintaan dari kedua negara ini akan berdampak besar pada produksi batu bara nasional.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap target produksi batu bara. Evaluasi ini dilakukan untuk menyesuaikan target produksi dengan kondisi pasar global yang berubah.
“Iya, otomatis kita menyesuaikan. Sedang kita lakukan evaluasi. Mungkin di bawah 700-an (juta),” kata Tri saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, pada Selasa, 11 November 2025.
Sebagai perbandingan, target produksi batu bara Indonesia pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 735 juta ton. Namun, realisasi produksi hingga saat ini masih cukup rendah jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan permintaan batu bara sudah mulai terasa.
Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) ESDM, Surya Herjuna, telah memprediksi bahwa ekspor batu bara Indonesia ke negara tujuan seperti China dan India pada tahun ini akan menyusut sekitar 20-30 juta ton. Prediksi ini semakin memperkuat indikasi penurunan permintaan batu bara dari pasar global.
Menurut Surya, penurunan ekspor ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah meningkatnya kapasitas produksi batu bara di negara China, yang merupakan pasar utama bagi batu bara Indonesia. Dengan meningkatnya produksi dalam negeri, China mengurangi impor batu bara dari negara lain, termasuk Indonesia.
“Kalau dilihat sekarang produksi China naik. China juga impornya agak turun. India sih agak stabil. China terutama ya,” ungkapnya.
Baca Juga:
Tragedi di Sungai Ciujung: Bocah 9 Tahun Ditemukan Tewas Setelah Tenggelam
Selain itu, masalah kualitas kalori juga menjadi kendala bagi industri batu bara Indonesia. Surya mengakui bahwa Indonesia memiliki cadangan batu bara yang cukup besar, yaitu sekitar 31 miliar ton, dan sumber daya yang mencapai 93 miliar ton. Namun, sebagian besar cadangan batu bara Indonesia memiliki kualitas kalori yang rendah.
“Problemnya 73 persen kalori rendah, yang kalori tinggi cuma 5 persen, yang kalori menengah cuma sekitar 8 persen,” katanya.
Kondisi ini menjadikan posisi Indonesia kurang kompetitif di pasar batu bara global, terutama ketika pasar membutuhkan pasokan batu bara dengan kalori tinggi. Batu bara dengan kalori tinggi umumnya berasal dari tambang-tambang lama yang semakin sulit untuk dibuka.
“Yang SR sudah mulai di atas 10-15, bahkan biasanya lokasinya lahan-lahan kawasan hutan, lahan yang susah dibuka,” ujarnya.
Penurunan produksi batu bara ini akan berdampak pada berbagai sektor ekonomi di Indonesia. Industri batu bara merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara. Penurunan produksi akan mengurangi pendapatan negara dari sektor ini.
Selain itu, penurunan produksi batu bara juga akan berdampak pada lapangan kerja. Industri batu bara menyerap banyak tenaga kerja, terutama di daerah-daerah penghasil batu bara. Penurunan produksi akan menyebabkan pengurangan tenaga kerja di sektor ini.
Namun, di sisi lain, penurunan produksi batu bara juga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan. Penambangan batu bara seringkali menimbulkan kerusakan lingkungan, seperti deforestasi, erosi tanah, dan pencemaran air. Dengan penurunan produksi, kerusakan lingkungan akibat penambangan batu bara dapat dikurangi.
Baca Juga:
SPBU Jadi Ladang Korupsi? KPK Usut Proyek Digitalisasi, Telkom Terseret
Pemerintah Indonesia menyadari tantangan yang dihadapi oleh industri batu bara. Pemerintah









