Menu

Mode Gelap

Berita · 18 Nov 2025 17:56 WIB

Ironi Jakarta: Kisah Kampung Pemulung di Tengah Gemerlap Gedung Pencakar Langit


 Ironi Jakarta: Kisah Kampung Pemulung di Tengah Gemerlap Gedung Pencakar Langit Perbesar

PROLOGMEDIA – Di jantung kota Jakarta yang gemerlap, diapit oleh gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah, tersembunyi sebuah kontras yang mencolok: Kampung Cahaya, atau yang juga dikenal sebagai Kampung Gasong. Terletak di Menteng Atas, Jakarta Pusat, kampung ini menjadi rumah bagi ratusan keluarga pemulung yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan yang serba ada.

Kampung Cahaya, sebuah oase kecil di tengah rimba beton Jakarta, menawarkan pemandangan yang kontras dengan kemewahan kota metropolitan. Di sini, aroma sampah yang menyengat bercampur dengan debu jalanan, rumah-rumah semi permanen berdiri berdesakan, dan akses terhadap air bersih menjadi barang mewah yang sulit didapatkan.

Bagi sebagian besar warga, kehidupan di Kampung Cahaya dimulai setelah terusir dari tempat tinggal sebelumnya akibat penggusuran. Mereka datang ke tempat ini dengan harapan dapat memulai hidup baru, meski harus berjuang keras di tengah kerasnya kehidupan kota.

Siang dan sore hari di Kampung Cahaya selalu diwarnai dengan kesibukan para pemulung. Di antara tumpukan sampah setinggi hampir dua meter, mereka memilah-milah plastik, kardus, dan botol bekas yang masih memiliki nilai jual. Anak-anak kecil berlarian di antara rumah-rumah reyot, bermain dengan riang tanpa menghiraukan kondisi lingkungan yang kurang ideal. Di kampung yang dulunya bernama Kampung Gasong ini, sekitar 130 kepala keluarga bertahan hidup dengan memanfaatkan apa pun yang bisa mereka temukan di tumpukan sampah.

Cipto (75), salah satu warga Kampung Cahaya, adalah potret perjuangan hidup di tengah keterbatasan. Ia datang ke kampung ini setelah tidak lagi mampu membayar kontrakan di Manggarai ketika wilayah tersebut digusur.

Baca Juga:
Masyarakat Baduy Segera Dapat Makanan Bergizi Gratis? Ini Rencana Pemerintah!

“Dulu tanah ini katanya tanah TPU. Kita tinggal karena nggak ada pilihan lain,” ujarnya dengan nada pasrah. Setelah dua kali mengalami penggusuran, Cipto hanya bisa berharap yang terbaik. “Kalau pemerintah mau pakai, saya cuma bisa ucap terima kasih. Selama ini bisa tinggal di sini saja sudah syukur,” katanya.

Sebagian besar warga Kampung Cahaya bekerja sebagai pemulung, meskipun jumlahnya kini semakin berkurang. “Sekarang paling cuma 20 persen yang masih pemulung. Yang lain ada yang kerja proyek, ojek, atau asisten rumah tangga,” kata Cipto. Penghasilan harian seorang pemulung seperti dirinya umumnya di bawah Rp 100.000, jumlah yang sangat minim untuk memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta yang serba mahal.

Ancaman relokasi selalu menghantui warga Kampung Cahaya. Mereka hidup dalam ketidakpastian, tidak tahu kapan tempat tinggal mereka akan digusur lagi. Nuria (60), salah satu warga paling awal di kampung ini, bercerita bahwa dulu tempat ini adalah rawa dengan banyak ular. Kini, rawa tersebut telah berubah menjadi perkampungan padat yang dihuni oleh ratusan keluarga pemulung.

Meskipun hidup dalam kondisi serba terbatas, warga Kampung Cahaya tetap memiliki semangat solidaritas yang kuat. Mereka saling membantu dan berbagi, menciptakan komunitas yang erat di tengah kerasnya kehidupan kota. Di kampung ini juga terdapat secercah harapan, yaitu ruang belajar sederhana bagi anak-anak yang dikenal dengan nama YOI School. S

Baca Juga:
Dari Durian Hingga Tikus: Kilas Balik Dunia Kuliner yang Bikin Penasaran

ekolah ini menjadi lentera bagi anak-anak pemulung, memberikan mereka pendidikan dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita