Menu

Mode Gelap

Berita · 2 Nov 2025 04:25 WIB

Jangan Sampai Ketipu! Waspada Modus Penipuan di WhatsApp


 Jangan Sampai Ketipu! Waspada Modus Penipuan di WhatsApp Perbesar

JAKARTA – Aplikasi pesan instan, yang seharusnya menjadi sarana komunikasi yang memudahkan, kini justru menjadi “sarang” bagi para penipu. WhatsApp dan Telegram, dua aplikasi pesan instan yang populer di Indonesia, menjadi platform favorit bagi para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.

Laporan terbaru dari Global Anti-scam Alliance (GASA) dan Indosat Ooredoo Hutchison, yang bertajuk “State of Scams in Indonesia 2025”, mengungkapkan fakta yang mencengangkan. Sebanyak 67% kasus penipuan terjadi melalui aplikasi pesan singkat, dengan WhatsApp mendominasi sebanyak 89% dan Telegram menyusul dengan 40%. Selain itu, WeChat juga tercatat digunakan dalam 3% kasus penipuan.

Selain aplikasi pesan singkat, media sosial juga menjadi ladang subur bagi para penipu. Laporan tersebut mencatat bahwa 48% kasus penipuan terjadi melalui berbagai platform media sosial, seperti Facebook (37%), Instagram (28%), TikTok (13%), dan X (9%). Bahkan, aplikasi kencan seperti Tinder pun tak luput dari incaran para pelaku kejahatan siber, dengan mencatatkan 2% kasus penipuan.

Penipuan tidak hanya terjadi melalui pesan teks. Laporan GASA juga mengungkapkan bahwa 64% kasus penipuan dilakukan melalui panggilan suara dan 59% melalui pesan SMS. Hal ini menunjukkan bahwa para penipu semakin kreatif dalam mencari cara untuk menjerat korbannya.

Mengapa Banyak Orang Tertipu?

Laporan GASA juga mengungkap beberapa alasan mengapa banyak orang menjadi korban penipuan. Sebanyak 22% responden mengaku tergiur dengan penawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Para penipu seringkali menggunakan iming-iming hadiah besar, diskon fantastis, atau investasi dengan keuntungan yang tidak masuk akal untuk menarik perhatian calon korban.

Alasan lainnya adalah karena penipuan tersebut dibuat sangat realistis dan dapat dipercaya (16%). Para penipu seringkali menggunakan identitas palsu, logo perusahaan yang dipalsukan, atau bahkan meniru gaya bahasa dan nada bicara orang yang dikenal oleh korban untuk meyakinkan mereka.

Selain itu, sebanyak 15% responden mengaku bertindak terlalu cepat sebelum menyadari bahwa mereka sedang ditipu. Para penipu seringkali menciptakan situasi yang mendesak, memaksa korban untuk mengambil keputusan dengan cepat tanpa sempat berpikir panjang.

Sebanyak 11% responden mengaku menjadi korban penipuan karena baru pertama kali menggunakan platform atau layanan tertentu. Kurangnya pengalaman dan pengetahuan mengenai modus penipuan membuat mereka rentan menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan siber.

Alasan terakhir adalah karena korban tidak familiar dengan praktik penipuan dengan meniru seseorang (11%). Para penipu seringkali menggunakan teknik social engineering, yaitu memanipulasi psikologis korban untuk mendapatkan informasi pribadi atau melakukan tindakan yang menguntungkan pelaku.

Dampak Penipuan: Lebih dari Sekadar Kerugian Finansial

Dampak penipuan tidak hanya terbatas pada kerugian finansial. Laporan GASA menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden (51%) mengaku sangat stres setelah menjadi korban scam.

Penipuan dapat menyebabkan trauma emosional, rasa malu, dan hilangnya kepercayaan terhadap orang lain.

Selain itu, penipuan juga dapat berdampak negatif pada reputasi dan karier korban. Jika informasi pribadi korban dicuri atau disalahgunakan, mereka dapat menjadi korban pencurian identitas atau terlibat dalam masalah hukum.

Kenali Modusnya, Lindungi Diri Anda!

Baca Juga:
Sindikat Curanmor Bersenpi Dibekuk di Tangerang: Aksi Lintas Wilayah Terungkap!

Untuk menghindari menjadi korban penipuan, penting untuk mengenali berbagai modus yang digunakan oleh para pelaku kejahatan siber. Berikut adalah beberapa modus penipuan yang umum terjadi di WhatsApp dan platform lainnya:

1. Penawaran Hadiah atau Diskon Palsu: Anda

menerima pesan yang menawarkan hadiah atau diskon besar-besaran dari merek atau toko yang terkenal. Pesan tersebut biasanya meminta Anda untuk mengklik tautan atau mengisi formulir dengan informasi pribadi Anda.

2. Pesan dari Nomor Tidak Dikenal yang Mengaku Sebagai Teman atau Keluarga: Anda menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal yang mengaku sebagai teman atau anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan keuangan. Mereka mungkin menggunakan alasan seperti kehilangan dompet, kecelakaan, atau sakit parah.

3. Undian Palsu: Anda menerima pesan yang memberitahukan bahwa Anda memenangkan undian berhadiah uang tunai atau barang mewah. Pesan tersebut biasanya meminta Anda untuk membayar biaya administrasi atau pajak terlebih dahulu sebelum hadiah dapat dicairkan.

4. Investasi Bodong: Anda menerima pesan yang menawarkan investasi dengan keuntungan yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Pesan tersebut biasanya meminta Anda untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening yang tidak jelas.

5. Phishing: Anda menerima pesan yang meminta Anda untuk memperbarui informasi akun Anda di situs web atau aplikasi tertentu. Pesan tersebut biasanya mengarahkan Anda ke situs web palsu yang sangat mirip dengan situs web aslinya.

Tips Mencegah Penipuan:

Berikut adalah beberapa tips untuk mencegah menjadi korban penipuan:

– Jangan Mudah Percaya dengan Penawaran yang Terlalu Bagus untuk Menjadi Kenyataan: Jika ada sesuatu yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, kemungkinan besar itu adalah penipuan.

– Verifikasi Identitas Pengirim Pesan: Jika Anda menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, coba verifikasi identitas pengirim dengan menghubungi teman atau keluarga Anda secara langsung.

– Jangan Klik Tautan atau Mengunduh File dari Sumber yang Tidak Dikenal: Tautan dan file dari sumber yang tidak dikenal dapat mengandung malware atau virus yang dapat mencuri informasi pribadi Anda.

– Jangan Pernah Memberikan Informasi Pribadi Anda kepada Siapapun: Informasi pribadi seperti nomor rekening bank, kata sandi, atau nomor kartu kredit harus dijaga kerahasiaannya.

– Laporkan Pesan Penipuan: Jika Anda menerima pesan yang mencurigakan, laporkan kepada pihak berwajib atau penyedia layanan aplikasi pesan instan.

Baca Juga:
Resep Martabak Manis Teflon ala Rumahan: Lebih Sehat, Lebih Hemat, Lebih Nikmat!

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengenali berbagai modus penipuan, kita dapat melindungi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita dari menjadi korban kejahatan siber.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ironi di Tengah Kemewahan: Jalan Kampung di Jakarta Pusat Tak Pernah Diaspal Puluhan Tahun

30 November 2025 - 20:44 WIB

Kisah Lulusan Ber-IPK 4.0 yang Harus Berhadapan dengan Tekanan Dunia Nyata

30 November 2025 - 20:42 WIB

Aturan Barang Bawaan di Kereta Khusus Petani dan Pedagang, Ini Daftar Larangannya

30 November 2025 - 20:24 WIB

Kick-off HPN 2026 di Serang Terselenggara Meriah, Banten Mantapkan Diri sebagai Tuan Rumah Puncak Peringatan Nasional

30 November 2025 - 20:14 WIB

Polri Gerak Cepat Bangun Jembatan Gantung di Soppeng, Tindak Lanjut Instruksi Presiden Prabowo

30 November 2025 - 20:09 WIB

Air Astana Capai Rekor Pemesanan 50 Airbus A320neo untuk Perluas Jangkauan dan Modernisasi Armada

30 November 2025 - 20:07 WIB

Trending di Berita