Menu

Mode Gelap

Berita · 14 Nov 2025 12:07 WIB

Kekeringan Ekstrem Landa Iran: Krisis Air Mengintai, Bagaimana Nasib Warganya?


 Kekeringan Ekstrem Landa Iran: Krisis Air Mengintai, Bagaimana Nasib Warganya? Perbesar

JAKARTA – Iran, negeri yang kaya akan sejarah dan budaya, kini tengah menghadapi ancaman serius: kekeringan parah. Setengah wilayah negara itu belum menerima setetes pun air hujan sejak musim panas berakhir, menandai salah satu krisis air terburuk dalam sejarah modern Iran. Panas ekstrem dan pasokan air yang semakin menipis telah memaksa pemerintah untuk memberlakukan pembatasan air yang ketat, memicu kekhawatiran dan ketidakpastian di kalangan masyarakat. Jumat, (14/11).

Data resmi menunjukkan bahwa 15 dari 31 provinsi di Iran mengalami kekeringan ekstrem sejak awal tahun hidrologi pada 23 September. Situasi ini diperparah oleh infrastruktur air yang sudah tua dan rusak, mengakibatkan kebocoran dan pemborosan air yang signifikan.

Di ibu kota Teheran, yang dihuni oleh lebih dari 10 juta jiwa, pembatasan bergilir pasokan air telah diberlakukan untuk

“menghindari pemborosan,” menurut Menteri Energi Abbas Ali Abad.

Warga Teheran kini harus beradaptasi dengan jadwal air yang tidak pasti. Banyak yang terpaksa menggunakan wadah air dan pompa untuk mengatasi masalah tekanan air yang rendah. Bahkan, beberapa warga di pusat kota telah berbulan-bulan tanpa pasokan air, dengan alasan perbaikan yang dilakukan oleh pejabat.

Populasi Teheran yang terus bertambah, diperkirakan mencapai 18 juta jiwa di wilayah metropolitan, semakin memperburuk krisis air yang ada.

Namun, krisis air di Iran bukan hanya masalah perkotaan. Sektor pertanian, yang mengonsumsi sekitar 80-90% dari total pasokan air negara, menjadi penyumbang utama masalah ini.

Praktik irigasi yang tidak efisien dan pemilihan tanaman yang tidak sesuai dengan iklim telah menyebabkan pemborosan air yang besar dan mempercepat penipisan sumber daya air.

Peneliti lingkungan Azam Bahrami menekankan bahwa pengurangan konsumsi air oleh penduduk saja tidak akan cukup untuk mengatasi krisis ini. Ia berpendapat bahwa pemerintah perlu memprioritaskan reformasi sektor pertanian dan mengadopsi praktik pengelolaan air yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga:
Pabrik Nike-Adidas Terpapar Radioaktif: Pelajaran Pahit untuk Industri Indonesia

Data dari Universitas Stuttgart menunjukkan bahwa Iran telah kehilangan sekitar 16 kilometer kubik air per tahun sejak 2002. Jumlah ini setara dengan hilangnya volume air hampir sebesar Danau Konstanz setiap tiga tahun. Secara total, sekitar 370 kilometer kubik air telah hilang selama 23 tahun terakhir, sebuah masalah yang sangat serius yang mengancam keberlanjutan negara.

Menghadapi krisis air yang semakin memburuk, beberapa pihak mulai mempertanyakan kemampuan Iran untuk menanggung pertumbuhan populasi atau sepenuhnya mandiri dalam produksi pangan. Namun, para ahli lingkungan yang menyuarakan kekhawatiran ini seringkali diabaikan oleh pemerintah, yang lebih memilih untuk menunjuk orang-orang yang lebih cocok secara ideologis dalam proses pengambilan keputusan.

Krisis air telah menjadi topik perdebatan publik yang hangat di Iran. Surat kabar pro-reformasi Etemad menuding “pemimpin yang tidak kompeten di institusi-institusi strategis,” sementara harian Schargh mengatakan perlindungan iklim telah “dikorbankan untuk politik.”

Yang lebih mengejutkan, Presiden Masoud Pezeshkian menyinggung kemungkinan untuk mengevakuasi Teheran karena krisis air. Namun, pihak berwenang Iran belum memberikan penjelasan rinci mengenai bagaimana dan ke mana jutaan warga kota ibu kota ini akan diungsikan, menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Lalu, bagaimana krisis air di Iran dapat diselesaikan? Selain memberlakukan pembatasan air dan berharap akan turunnya hujan, para pejabat belum mempresentasikan rencana yang jelas dan komprehensif untuk mengatasi masalah ini.

Peneliti Tourian menyarankan beberapa langkah yang dapat membantu secara cepat, seperti memprioritaskan air minum di kota-kota besar dan mengalihkan sementara penggunaan air yang kurang penting. Namun, ia menekankan pentingnya langkah tegas dan solusi berkelanjutan untuk menghadapi krisis air.

Penggunaan citra satelit dapat membantu membentuk gambaran yang jelas dan independen mengenai berkurangnya pasokan air nasional dan menghitung anggaran air secara realistis. Langkah kunci lainnya adalah mengubah sektor pertanian Iran, menyesuaikan tanaman pertanian yang sesuai dengan iklim, dan memadukan pertanian dengan sistem irigasi yang lebih efisien.

Tourian juga menyoroti pentingnya reformasi kelembagaan, kapasitas teknis, struktur data yang andal, dan kemauan politik untuk mengatasi krisis air secara efektif. Faktor-faktor ini seringkali lebih sulit diimplementasikan daripada solusi teknis, tetapi sangat penting untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang.

Krisis air di Iran adalah pengingat yang jelas tentang dampak perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya yang buruk. Negara ini menghadapi tantangan yang berat, tetapi dengan tindakan yang tepat dan komitmen yang kuat, Iran dapat mengatasi krisis ini dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga:
ESDM Garansi: Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik Aman, Tak Cemari Lingkungan!

Namun, tanpa tindakan yang berani dan inovatif, Iran berisiko menghadapi bencana yang lebih besar di masa depan.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita