PROLOGMEDIA – Dinamika politik di Kota Cilegon memanas kembali ketika Ratu Ati Marliati secara aklamasi terpilih kembali untuk memimpin Golkar Kota Cilegon periode 2025–2030. Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD II Golkar Kota Cilegon berlangsung di Hotel Grand Mangku Putra pada 26 November 2025, dan momentum itu menegaskan bahwa kepemimpinan Ati mendapatkan kepercayaan penuh dari fungsionaris hingga kader akar rumput.
Dalam forum tertinggi partai di tingkat daerah itu, keputusan memilih Ati secara aklamasi bukan sekadar simbol administratif — melainkan cerminan solidaritas, konsensus, dan keyakinan bahwa kepemimpinannya mampu membawa Golkar Cilegon ke arah stabilitas dan konsolidasi yang berkelanjutan. Selepas penetapan, Ati langsung memberi sinyal bahwa masa jabatan barunya bukan untuk bersantai, melainkan untuk segera tancap gas menjalankan agenda strategis yang telah disiapkan.
Dengan nada penuh optimisme dalam pidato kemenangannya, Ati menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen partai yang memberi mandat. Namun ia juga mengingatkan, Musda bukanlah puncak perayaan, melainkan titik awal dari rangkaian kerja keras, konsolidasi, dan pembangunan kader. Itu sebabnya, langkah-langkah nyata bakal dilakukan segera, dengan target transformasi struktural dan ideologis di internal.
Salah satu program prioritas yang langsung diluncurkan adalah renovasi total kantor DPD II Golkar Cilegon. Ati menjelaskan, kantor partai akan dibangun ulang menjadi gedung tiga lantai — sebagai pusat komando yang representatif, mencakup ruang untuk pengurus inti hingga seluruh organisasi sayap. Kantor baru ini diharapkan menjadi tempat konsolidasi strategis, tempat kader dapat berkoordinasi dan bekerja secara optimal. “Kita gas pol penataan ulang infrastruktur partai. Gedung akan direnov hingga lantai tiga agar semua kader dan organisasi sayap bisa berkantor di sana. Konsolidasi kita lakukan sampai tingkat PK dan PL,” tegasnya.
Renovasi fisik ini bukan sekadar soal bangunan, melainkan simbol dari keseriusan Golkar Cilegon memperkuat struktur organisasi — dari pusat hingga akar rumput. Gedung tiga lantai diharapkan menjadi saksi dari cita-cita baru, di mana partai memperlihatkan wajah yang modern, terorganisir, dan siap menghadapi tantangan politik di masa mendatang.
Namun, perubahan struktural saja tidak cukup. Ati menegaskan bahwa regenerasi kader menjadi pilar strategis kepemimpinannya lima tahun ke depan. Ia ingin memberikan “panggung lebar” bagi kader muda — bukan hanya menjadi suara dalam pemilu, tetapi sebagai motor perubahan dan pengambil keputusan. Bagi Ati, generasi milenial dan Gen Z, yang kini menjadi demografi pemilih dominan, harus mendapat ruang nyata dalam kepemimpinan partai.
“Kita tidak menghilangkan peran kader senior, tetapi kader muda harus diberi kesempatan,” ujarnya. Ia mendorong agar kaum muda tak apatis terhadap politik — karena keputusan politik hari ini akan menentukan masa depan mereka. Kombinasi antara pengalaman senior dan semangat kader muda dianggap sebagai formula tepat untuk membawa Golkar Cilegon relevan dengan zaman dan aspirasi generasi baru.
Baca Juga:
OJK Perketat Aturan Paylater demi Stabilitas Keuangan dan Perlindungan Konsumen
Tak hanya dari internal partai, kepemimpinan Ati juga mendapat dukungan penuh dari struktur di tingkat provinsi. Andika Hazrumy sebagai Ketua DPD I Golkar Banten menyambut baik terpilihnya kembali Ati. Ia menilai konsensus itu merupakan hasil dari rekam jejak positif dan konsolidasi yang telah dilakukan selama ini, serta menyatakan siap mendukung strategi baru Golkar Cilegon di bawah nahkoda Ati.
Keterlibatan DPD I ini menjadi bukti bahwa Musda VI berjalan mulus dan tanpa gejolak — sebuah sinyal kedewasaan politik dari seluruh kader. Kesepakatan internal yang solid dianggap sebagai modal penting menjelang agenda besar di depan: membangun basis keanggotaan kuat dan menyiapkan partai untuk menghadapi kontestasi politik, termasuk Pemilu 2029. Golkar menargetkan setidaknya 30 persen pemilih loyal memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) — sebuah langkah strategis untuk memperkuat basis ideologis partai di Cilegon.
Dengan kepemimpinan baru di tangan Ati, Golkar Cilegon berharap dapat menjawab tantangan zaman: dari kebutuhan regenerasi, infrastruktur organisasi, hingga adaptasi dengan karakter pemilih masa kini. Gedung partai yang representatif dipandang mampu mendongkrak semangat konsolidasi dan profesionalisme — sekaligus menjadi tempat kader muda dan senior bersinergi membangun masa depan partai bersama.
Sikap agresif segera bekerja dan perhatian khusus pada generasi muda menunjukkan bahwa Golkar Cilegon tidak ingin ulangi stagnasi masa lalu. Kedepan, partai ini ingin tampil dengan wajah baru — relevan, progresif, serta punya daya jual di mata generasi milenial. Dalam pandangan Ati, keterlibatan aktif kaum muda bukan sekadar strategi jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang untuk kesinambungan partai.
Seiring terpilihnya kembali Ati, konsolidasi dan persiapan masif pun mulai dirancang. Pembangunan kantor, penataan struktur, penyaringan kader — semua diarahkan agar Golkar Cilegon siap melangkah dengan pijakan kuat. Dan lebih dari itu: tampil sebagai partai modern, adaptif, dan punya visi menyongsong masa depan.
Dengan demikian, Musda VI bukan sekadar ritual rutin partai — melainkan titik tolak transformasi mendasar bagi Golkar Cilegon. Di bawah kepemimpinan Ratu Ati Marliati, Golkar ingin membuktikan bahwa partai tradisional pun bisa berevolusi, memberi ruang bagi kader muda, dan tampil relevan dalam politik modern tanpa kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai dasar partai.
Baca Juga:
Sejarah Terukir di UNESCO: Bahasa Indonesia Resmi Jadi Bahasa Internasional!
Dalam perjalanan lima tahun ke depan, harapan terletak pada kemampuan kombinasi antara pengalaman, semangat, dan keseriusan untuk membangun struktur partai yang kuat serta koneksi dengan pemilih muda — sebuah tantangan besar, namun juga peluang besar bagi Golkar Cilegon untuk membawa perubahan nyata. Ati sadar bahwa tanggung jawabnya besar, dan ia tampak siap memikul amanah tersebut dengan penuh semangat. Kini, semua mata tertuju pada bagaimana janji dan rencana itu diterjemahkan dalam aksi nyata.









