Menu

Mode Gelap

Berita · 13 Des 2025 14:26 WIB

Rupiah Terpuruk Tajam terhadap Rubel Rusia, Tekanan Global dan Defisit Dagang Jadi Sorotan


 Rupiah Terpuruk Tajam terhadap Rubel Rusia, Tekanan Global dan Defisit Dagang Jadi Sorotan Perbesar

PROLOGMEDIA – Selama tahun 2025, perekonomian Indonesia tengah menghadapi tantangan yang cukup pelik pada aspek nilai tukar mata uang. Rupiah, yang selama ini menjadi simbol daya beli dan stabilitas ekonomi domestik, menunjukkan gejolak yang signifikan terhadap mata uang Rusia, rubel. Sepanjang tahun ini, rupiah mengalami pelemahan yang cukup tajam terhadap rubel, membuat sejumlah pelaku pasar, analis hingga pengambil kebijakan memperhatikan fenomena yang tak biasa ini dengan seksama dan penuh perhatian mendalam.

 

Mengutip data perdagangan, kurs rupiah terhadap rubel terus bergerak melemah sejak awal tahun. Pada permulaan 2025, nilai tukar rupiah berada di kisaran sekitar Rp141,7 per rubel. Namun menjelang akhir tahun, rupiah ditutup pada posisi sekitar Rp208,6 per rubel pada akhir pekan lalu. Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah telah anjlok hampir setengah nilainya terhadap rubel dalam kurun waktu kurang lebih 12 bulan. Secara persentase, pelemahan ini mencapai sekitar 47,2% dibanding posisi di awal tahun. Bahkan dalam sesi perdagangan tertentu, rupiah sempat menyentuh titik terlemah terhadap rubel sejak Januari 2023, membuat sejumlah pakar valuta asing menyebut pergerakan ini sebagai lintasan yang jarang terjadi dalam hubungan nilai tukar kedua mata uang itu.

 

Fenomena anjloknya rupiah ini juga terjadi sementara rupiah sudah menunjukkan tren pelemahan terhadap banyak mata uang utama dunia lainnya, seperti dolar Amerika Serikat dan euro. Hal ini mencerminkan tekanan global sekaligus domestik yang dialami oleh perekonomian Indonesia, yang membuat rupiah berada dalam posisi kurang menguntungkan ketika dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara lain. Namun yang menarik dari data pergerakan ini adalah pelemahan rupiah terhadap rubel yang terjadi begitu tajam, meski rubel sendiri bukan termasuk mata uang yang sering menjadi fokus utama pergerakan pasar global seperti dolar AS atau euro.

 

Ada beberapa alasan yang diperkirakan menjadi faktor penyebab utama di balik pelemahan ini. Pertama, kondisi perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia menunjukkan defisit yang meningkat cukup tajam. Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025, Indonesia mencatat defisit perdagangan dengan Rusia mencapai sekitar USD882 juta – melonjak hampir 98,35% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi defisit dagang yang melebar ini menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor barang dan jasa dari Rusia lebih banyak dibandingkan ekspor, sehingga permintaan akan rubel meningkat sementara permintaan terhadap rupiah menurun dalam konteks perdagangan bilateral. Hal ini menghasilkan tekanan lebih pada rupiah dalam pasar pertukaran mata uang.

 

Selain itu, proses pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh penguatan nyata rubel terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Sejak awal tahun, rubel menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar AS, dengan kenaikan sekitar 30% dari posisi awal 2025. Penguatan ini mendorong nilai rubel menjadi relatif lebih kuat ketika diukur terhadap mata uang lain termasuk rupiah. Dalam banyak kasus, penguatan rubel ini tidak semata dari meningkatnya kepercayaan global terhadap ekonomi Rusia, melainkan lebih karena kebijakan moneter domestik yang ketat serta beberapa faktor struktural lain yang mendukung permintaan rubel dalam negeri Rusia.

 

Bank sentral Rusia dikenal mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level yang sangat tinggi, di kisaran 20%. Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk meredam tekanan inflasi yang masih tinggi di dalam negeri. Suku bunga yang tinggi secara umum menarik minat pemegang modal domestik untuk menginvestasikan kembali dana mereka atau memegang aset berdenominasi rubel demi mendapatkan imbal hasil yang lebih menarik dibanding menyimpan mata uang asing. Situasi ini membuat suplai rubel tetap kuat di pasar domestik sekaligus menekan permintaan terhadap mata uang asing.

 

Baca Juga:
Diskominfo Kabupaten Serang Tingkatkan Literasi Keamanan Informasi untuk Lindungi Data Pribadi ASN

Selain itu, otoritas Rusia juga memperketat capital controls atau pengendalian aliran modal serta mematangkan aturan transaksi valuta asing yang lebih ketat daripada sebelumnya. Pembatasan arus modal ini menciptakan kondisi di mana rubel menjadi relatif lebih stabil dan tersedia dalam kondisi terjaga di pasar. Pembatasan tersebut membatasi keluarnya rubel dalam jumlah besar dari Rusia, sementara permintaan terhadap mata uang asing relatif tertahan. Dalam situasi demikian, rubel menjadi lebih diminati — bukan hanya oleh investor domestik, tetapi juga pelaku pasar global yang merespons stabilitas yang ditunjukkan oleh kebijakan tersebut. Ini kemudian ikut mendorong nilai rubel secara keseluruhan.

 

Faktor lain yang juga ikut berkontribusi adalah menurunnya tekanan risiko geopolitik yang membuat beberapa pelaku pasar menilai risiko terhadap aset Rusia mulai mereda. Meskipun konflik di Ukraina belum mencapai perdamaian final, beberapa tanda-tanda awal peredaan tensi dan upaya diplomasi yang muncul memberikan sentimen positif terhadap rubel. Sentimen ini membantu mengurangi premi risiko pada aset-aset Rusia, sehingga rubel mampu mempertahankan kinerjanya secara relatif lebih baik. Peningkatan permintaan rubel yang terjadi di aras global ini kemudian turut memberikan tekanan lebih kepada rupiah Indonesia dalam skala global.

 

Kondisi global yang mempengaruhi pelemahan rupiah juga tak lepas dari dinamika pasar mata uang dunia secara umum. Selama 2025, dolar AS sedikit melemah terhadap sejumlah mata uang utama, sementara itu, sejumlah mata uang pasar berkembang bergerak variatif tergantung pada kebijakan moneter masing-masing negara. Tekanan eksternal seperti kebijakan suku bunga global, tingkat inflasi internasional, serta sikap investor terhadap aset-aset negara berkembang turut mempengaruhi arah pergerakan rupiah. Dalam konteks ini, rupiah bukan satu-satunya mata uang pasar berkembang yang mengalami tekanan, namun pelemahan melawan rubel Rusia memberi gambaran khusus bagaimana dinamika bilateral antara kedua mata uang tersebut berkembang secara signifikan tahun ini.

 

Bagi Bank Indonesia dan para pembuat kebijakan ekonomi nasional, perkembangan ini menjadi sinyal penting bahwa stabilitas nilai tukar rupiah perlu diperkuat secara lebih komprehensif. Bank Indonesia selama ini telah aktif melakukan berbagai intervensi pasar untuk menjaga posisi rupiah, termasuk kebijakan moneter, operasi pasar terbuka, dan pengaturan cadangan devisa. Namun tantangan global yang sangat dinamis mengharuskan sinergi saling terkait antara kebijakan fiskal dan moneter, serta upaya memperkuat fundamental ekonomi Indonesia secara lebih luas.

 

Melemahnya rupiah terhadap rubel bisa menjadi cerminan betapa kompleksnya hubungan ekonomi internasional, terutama ketika dinamika nilai tukar menanggapi kondisi perdagangan bilateral, kebijakan domestik di negara lain, serta ekspektasi pasar global. Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa dalam ekonomi modern, stabilitas mata uang domestik tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal suatu negara, tapi juga oleh berbagai faktor eksternal yang kadang berada di luar kendali langsung pembuat kebijakan nasional.

 

Ke depan, para analis menyatakan bahwa Indonesia perlu menjaga agar ketergantungan terhadap impor dari beberapa negara tidak memberikan dampak negatif yang terlalu besar terhadap posisi rupiah. Selain itu, upaya diversifikasi pasar ekspor, peningkatan produktivitas ekspor, serta penguatan cadangan devisa menjadi strategi penting dalam menjaga daya tahan rupiah di tengah berbagai tekanan global yang terus berlangsung.

 

Baca Juga:
ASN Pengawas Sekolah Terseret Skandal Perselingkuhan, Video Digerebek Anak Berujung Pemecatan

Pergerakan rupiah yang melawan rubel ini juga membuka diskusi lebih luas di kalangan pelaku ekonomi dan pengambil keputusan tentang bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan momentum positif dari negara lain, memperkuat kerja sama perdagangan yang seimbang, serta menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara Indonesia dengan berbagai mitra dagang di dunia.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita