Menu

Mode Gelap

Berita · 5 Nov 2025 10:23 WIB

Satu Liang Banyak Nama: Kisah Tragis di Balik Makam Tumpang Jakarta


 Satu Liang Banyak Nama: Kisah Tragis di Balik Makam Tumpang Jakarta Perbesar

JAKARTA – Di tengah gemerlap kota metropolitan Jakarta, tersembunyi sebuah ironi yang menyayat hati. Lahan semakin sempit, bukan hanya untuk tempat tinggal, tetapi juga untuk peristirahatan terakhir. Krisis lahan pemakaman di Ibu Kota memaksa warganya untuk menghadapi pilihan sulit: memakamkan orang-orang terkasih di tempat yang jauh dari jangkauan, atau memanfaatkan sistem pemakaman tumpang yang semakin lazim di berbagai Taman Pemakaman Umum (TPU).

Pada tanggal 5 November 2025, Kompas.com mengangkat kisah pilu ini, menyoroti potret makam tumpang di Jakarta, khususnya di TPU Karet Pasar Baru Barat. Sebuah tempat di mana satu liang lahat menjadi saksi bisu bagi banyak nama, banyak keluarga, dan banyak cerita.

Pemakaman Tumpang: Solusi yang Diatur dalam Perda

Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat, Mila Ananda, menjelaskan bahwa kebijakan pemakaman tumpang diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pelayanan Pemakaman.

Dalam aturan tersebut, satu petak makam idealnya dapat digunakan untuk maksimal tiga jenazah, dengan jarak waktu antar pemakaman minimal tiga tahun.

Namun, kondisi ideal ini semakin sulit diterapkan di lapangan. Terbatasnya lahan pemakaman membuat praktik tumpang sering kali melampaui batas tiga jenazah.

“Karena lahan yang sangat terbatas, bahkan satu petak bisa dimakamkan lebih dari tiga orang. Tapi semuanya tetap atas persetujuan ahli waris yang dituangkan dalam surat pernyataan,” jelas Mila.

TPU Karet Pasar Baru Barat: Potret Nyata Krisis Lahan Pemakaman

TPU Karet Pasar Baru Barat di Karet Tengsin, Tanah Abang, adalah contoh nyata dari krisis lahan pemakaman yang melanda Jakarta. Di antara pepohonan rindang dan nisan-nisan tua yang berdiri rapat, suasana sunyi berpadu dengan hiruk-pikuk Jalan KH Mas Mansyur yang hanya berjarak beberapa meter dari gerbang makam.

Memasuki area TPU ini, pengunjung akan langsung disuguhi pemandangan padat nisan yang berdiri saling berhimpitan. Di beberapa titik, tanah makam tampak bergelombang, sebagian lebih tinggi karena sudah beberapa kali dibuka untuk pemakaman tumpang.

Satu Liang, Banyak Nama: Kisah di Balik Nisan

Baca Juga:
Maskot HPN 2026 Banten Resmi Diperkenalkan: Si Juhan, Simbol Ketangguhan dan Kearifan Lokal

Petugas operator TPU, Ade Rendra, menunjuk salah satu makam di Blok AA1. Di situ tampak sebuah nisan bertuliskan tiga nama berbeda: ayah, ibu, dan anak, berjejer dalam satu batu granit.

“Ini contoh makam tumpang tiga. Satu liang, tapi di sini sudah ada tiga jenazah. Tanahnya juga lebih tinggi dibanding makam lain karena sudah tiga kali dibuka,” kata Ade.

Hampir 90 persen permintaan pemakaman di TPU tersebut kini merupakan permintaan tumpang keluarga lama. “Rata-rata empat orang satu liang. Kadang bisa lima atau enam kalau memang masih memungkinkan dan ahli waris setuju,” ungkapnya.

Antara Kesedihan dan Keinginan untuk Bersama

Di sela-sela lorong sempit antara makam, beberapa pengunjung tampak menabur bunga dan membakar kemenyan. Salah satunya, Usmi (47), warga Bendungan Hilir yang sedang berziarah ke makam orangtuanya.

“Ayah dan ibu saya dimakamkan di sini. Sekarang kakak saya juga baru ditumpang di liang yang sama minggu lalu. Rasanya campur aduk, tapi kami ingin mereka tetap bersama,” tutur Usmi sambil menyeka mata.

Bagi banyak keluarga lama di Tanah Abang, TPU Karet Pasar Baru Barat memiliki nilai sentimental yang tinggi. “Sudah turun-temurun keluarga kami di sini. Jadi meskipun penuh, kami tetap memilih ditumpang di tempat yang sama,” kata Usmi lirih.

Setiap Langkah adalah Potongan Kisah Hidup

Di TPU Karet Pasar Baru Barat, setiap langkah di antara nisan adalah potongan kisah hidup warga kota. Kisah tentang cinta, kehilangan, dan keinginan untuk tetap bersama, bahkan setelah kematian. Krisis lahan pemakaman di Jakarta bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah kemanusiaan yang menyentuh hati.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu mencari solusi yang lebih komprehensif untuk mengatasi krisis ini. Selain mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang ada, perlu juga dipikirkan alternatif lain, seperti kremasi atau pembangunan pemakaman vertikal.

Baca Juga:
Revolusi Kopi Lokal: Integrasi AI Dongkrak Kualitas & Konsistensi Rasa di Jakarta Coffee Week 2025

Namun, di atas semua itu, yang terpenting adalah menghormati hak setiap warga untuk mendapatkan tempat peristirahatan terakhir yang layak. Karena di balik setiap nisan, terukir nama dan kisah yang patut dikenang.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita