Menu

Mode Gelap

Berita · 14 Des 2025 21:51 WIB

Tangsel Dikepung Sampah, Pemkot Semprot Cairan Antibau untuk Redakan Aroma


 Tangsel Dikepung Sampah, Pemkot Semprot Cairan Antibau untuk Redakan Aroma Perbesar

PROLOGMEDIA – Sejak awal Desember 2025, suasana di Kota Tangerang Selatan berubah drastis. Jalan-jalan utama yang biasanya bersih dan tertata rapi kini dipenuhi oleh tumpukan sampah yang menjulang di berbagai titik. Dari kolong flyover Ciputat hingga sepanjang trotoar kawasan Serpong, tumpukan sampah terlihat menyelimuti area publik. Pemandangan ini bukan sekadar visual yang kurang sedap; aroma busuk yang tajam dan menyengat telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Kondisi ini memicu keresahan publik, mulai dari keluhan warga hingga sorotan dari wakil rakyat, dan menjadi gambaran bahwa persoalan sampah di kota ini telah mencapai titik yang sangat serius.

 

Masalah yang kini menjadi perhatian besar warga Tangsel bermula dari kondisi yang semakin tidak terkendali di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong. Sejak penutupan sementara TPA untuk keperluan penataan ulang, volume sampah yang biasanya lancar diangkut kini tertahan. Akibatnya, sampah menumpuk di titik-titik strategis, terutama di bawah flyover Ciputat, trotoar sepanjang Jalan Ir. Haji Juanda, dan area dekat Kantor DPRD serta Puskesmas Serpong. Tumpukan sampah terlihat tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di pinggir jalan dan area pasar yang padat aktivitas. Warga mulai resah, bukan hanya karena melihat tumpukan sampah di mana-mana, tetapi juga karena dampak langsung yang mereka rasakan dalam keseharian mereka.

 

Salah seorang warga setempat, yang setiap hari melintasi area flyover Ciputat, menggambarkan suasana yang makin memprihatinkan. “Sampah di bawah flyover itu sudah hampir setinggi pagar trotoar, dan baunya benar-benar membuat sesak napas. Bahkan ketika angin bertiup ke arah permukiman kami, bau itu sampai ke dalam rumah,” katanya. Keluhan semacam ini bukan satu-dua kasus; banyak warga lain yang juga mengeluhkan kondisi serupa di lokasi berbeda. Mereka merasa aktivitas normal seperti berjalan kaki ke sekolah, berbelanja di pasar, atau sekadar berbelanja kebutuhan harian kini terganggu oleh kondisi yang seharusnya tidak terjadi di kota metropolitan seluas Tangsel.

 

Menanggapi kekhawatiran publik yang semakin meluas, Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengambil langkah cepat di tengah krisis ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota, Bani Khosyatullah, menjelaskan bahwa sejak beberapa hari terakhir pihaknya melakukan penanganan sementara terhadap tumpukan sampah yang menggunung di berbagai titik kota. Langkah pertama yang dilakukan adalah menutup tumpukan sampah dengan terpal dan secara rutin menyemprotkan cairan antibau yang ramah lingkungan. Tujuannya tidak hanya untuk mengurangi aroma tidak sedap yang menyeruak, tetapi juga untuk menjaga kebersihan area sekitar agar tidak semakin memperburuk kondisi lingkungan.

 

“Langkah-langkah ini kami lakukan agar dampak bau dapat ditekan. Kami memahami kekhawatiran warga. Ini adalah bagian dari penanganan cepat sambil memastikan bahwa pengangkutan sampah, serta manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik segera berjalan optimal kembali,” jelas Bani saat ditemui di lokasi TPA Cipeucang. Penyemprotan dengan cairan ramah lingkungan tersebut dilakukan secara berkala di titik-titik yang mengalami penumpukan parah, khususnya di titik yang berdekatan dengan permukiman warga.

 

Namun demikian, upaya teknis semacam itu dianggap belum cukup oleh banyak pihak. Anggota Komisi IV DPRD Kota Tangsel, Julham Firdaus, tidak segan mengkritik kinerja pemerintah kota dalam menangani persoalan ini. Menurutnya, fenomena sampah yang menumpuk di berbagai wilayah kota menunjukkan bahwa pemerintah tidak mampu menyelesaikan persoalan secara tuntas. Julham bahkan menyatakan bahwa pemerintah kota perlu mempertimbangkan opsi yang lebih agresif, termasuk menggandeng pihak ketiga atau sektor privat untuk membantu penanganan sampah secara profesional dan cepat.

Baca Juga:
Rahasia Kalori Keripik Pisang dan Cara Sehat Menikmatinya

 

“Inilah yang disebut ketidakbecusan. Sampai titik ini, mengapa masalah sampah masih terus terjadi dan belum menemukan solusi permanen? Seharusnya dengan teknologi dan sistem yang lebih baik, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efisien,” ujar Julham. Dia juga menekankan pentingnya pemaksimalan fasilitas Material Recovery Facility (MRF) yang berada di bawah pengelolaan Pemkot sebagai salah satu solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah, termasuk pemilahan dan daur ulang sebelum masuk ke landfill.

 

Kritik semacam ini diperkuat oleh realitas di lapangan. Di sejumlah titik, sampah bukan hanya menumpuk, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda pencemaran lingkungan. Air lindi yang keluar dari tumpukan sampah di beberapa sudut jalan membuat sebagian jalan menjadi licin. Di kawasan TPA Cipeucang sendiri, warga yang tinggal di sekitar lokasi juga mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih karena kualitas air tanah dianggap telah tercemar oleh limbah sampah. Warga terpaksa menggunakan air galon untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak dan mandi, menambah beban pengeluaran keluarga mereka.

 

Kondisi darurat ini berdampak luas. Aktivitas pedagang di pasar-pasar tradisional juga mulai terpengaruh. Bau yang menyengat membuat pembeli enggan berlama-lama berada di dekat tumpukan sampah, sementara pedagang harus menutup dagangan mereka lebih rapat demi mengurangi dampak bau. Keadaan ini turut mencoreng citra kota yang selama ini dikenal memiliki fasilitas publik yang baik dan lingkungan yang relatif bersih.

 

Pemerintah kota sendiri memastikan proses penataan di TPA Cipeucang terus berjalan. Penataan tersebut mencakup metode terasering di sebagian area landfill untuk mencegah longsor dan memperbaiki drainase serta pembukaan akses jalan menuju landfill baru. Selain itu, pemerintah juga tengah membebaskan lahan untuk pembangunan fasilitas Material Recovery Facility (MRF), yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah di kota dengan penduduk yang terus bertambah.

 

“Kami mohon dukungan masyarakat dalam proses ini. Dengan kolaborasi dan kesadaran bersama, persoalan sampah ini bisa diatasi secara bertahap dan berkelanjutan,” ucap Bani. Ia berharap bahwa masyarakat bisa bersabar dan terlibat langsung dalam upaya pengelolaan sampah dengan cara memilah sampah dari rumah tangga agar volume sampah yang harus diangkut ke TPA dapat dikurangi.

 

Baca Juga:
Alasan Megawati Tak Pakai HP: Khawatir Disadap Hingga Seruan Etika di Era AI

Kasus ini telah membuka mata banyak pihak bahwa persoalan sampah bukan sekadar persoalan estetika kota, melainkan isu kompleks yang melibatkan pengelolaan lingkungan, keterlibatan masyarakat, dan kebijakan publik yang kuat. Warga Tangsel menunggu langkah konkret terhadap janji perbaikan sistem pengelolaan sampah, sementara pemerintah berupaya keras melakukan penataan untuk mengembalikan kondisi kota seperti semula. Meski begitu, sejumlah kalangan berharap pasca-krisis ini, terdapat evaluasi menyeluruh agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang.

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita