Menu

Mode Gelap

Kuliner · 14 Nov 2025 08:02 WIB

Tragedi MBG di Lembang: Ratusan Siswa Keracunan, Mimpi Gizi Gratis Berujung Petaka!


 Tragedi MBG di Lembang: Ratusan Siswa Keracunan, Mimpi Gizi Gratis Berujung Petaka! Perbesar

JAKARTA – Mimpi anak-anak di Desa Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) untuk mendapatkan asupan gizi terbaik melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) berubah menjadi tragedi. Sebanyak 201 siswa mengalami keracunan setelah menyantap makanan yang disediakan oleh program tersebut.

Insiden ini tentu menjadi tamparan keras bagi Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program MBG. Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung, memastikan pihaknya akan terus melakukan perbaikan mendasar pada sistem pengelolaan program tersebut.

“Kita akan terus berbenah diri dan terus melakukan perbaikan secara mendasar. Kemarin sudah di investigasi oleh tim, dan kita terus dalami kasus seperti ini,” ujar Lodewyk kepada wartawan, Kamis (13/11/2025).

Lodewyk juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang terus mengawasi dan mendukung program MBG, yang merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo. Ia berharap, dengan keterlibatan aktif dari Matra TNI, program MBG dapat mencapai target yang telah ditetapkan.

“Mohon dukungan dan pengawasan rakyat, ini program baik yang harus sama-sama kita sukseskan. Ini momentum untuk kembali membangun tradisi gotong-royong antara semua golongan,” ujarnya.

Hasil Investigasi BGN: Kadar Nitrit Tinggi dalam Makanan Penyebab Keracunan

Tim Investigasi Independen BGN mengungkapkan bahwa penyebab keracunan massal yang menimpa sejumlah sekolah di Desa Cibodas, Lembang, adalah tingginya kadar nitrit dalam makanan, bukan disebabkan oleh kualitas air.

“Kesimpulan ini kami peroleh berdasarkan hasil rapid test dan uji air bersih dari Labkesmas Bandung Barat, serta penjelasan dari Kepala SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi),” ujar Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, kepada wartawan, Senin (10/11/2025).

Tim Investigasi menemukan kandungan nitrit pada hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari SPPG Kayu Ambon dan SPPG Cibodas 2, Bandung Barat. Di SPPG Kayu Ambon, nitrit positif terdeteksi pada menu tumis pakcoy yang merupakan sisa makanan di sekolah. Menu MBG di sekolah tersebut terdiri dari nasi putih, ayam betutu Bali, tahu goreng, tumis pakcoy bawang putih, dan pisang.

Sementara itu, di SPPG Cibodas 2, nitrit positif ditemukan pada nasi putih, tumis wortel, jagung mini putren, dan kembang kol, baik pada bank sampel maupun sisa makanan di sekolah. Diketahui, menu MBG di sekolah itu adalah nasi putih, ayam giling bola-bola, tumis wortel, jagung mini putren dan kembang kol, serta buah lengkeng.

“Hasil uji fisik, kimia, dan mikrobiologi air bersih di kedua SPPG tersebut semuanya memenuhi standar,” ungkap Arie.

Arie menjelaskan bahwa kadar nitrit yang terdeteksi diukur secara kualitatif menggunakan rapid test. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan nitrit pada menu dari SPPG Cibodas 2 lebih tinggi dibandingkan SPPG Kayu Ambon. Hal ini menjadi alasan jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan dari Cibodas 2 lebih banyak, yaitu 236 orang, dibandingkan 44 orang dari Kayu Ambon.

Baca Juga:
Sampah Sebagai Ladang Bisnis Kriminal: Eropa Terjebak dalam Jaring Perdagangan Ilegal yang Bernilai Miliaran Euro

Nitrit dalam Makanan: Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Nitrit adalah senyawa kimia yang secara alami terdapat dalam sayuran seperti bayam, bit, dan wortel. Namun, jika kadar nitrit terlalu tinggi, dapat menyebabkan keracunan dengan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare. Pada kasus yang parah, keracunan nitrit dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan bahkan kematian.

Pertanyaan yang Harus Dijawab: Mengapa Kadar Nitrit Bisa Tinggi?

Temuan Tim Investigasi BGN menimbulkan pertanyaan penting: mengapa kadar nitrit dalam makanan MBG bisa begitu tinggi hingga menyebabkan keracunan massal? Apakah ada kesalahan dalam proses pengolahan, penyimpanan, atau pemilihan bahan makanan?

Pemerintah dan pihak terkait harus segera melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengungkap penyebab utama tingginya kadar nitrit dalam makanan MBG. Selain itu, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pangan dan proses pengawasan program MBG untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Nasib Program MBG di Ujung Tanduk: Kepercayaan Masyarakat Harus Dipulihkan

Insiden keracunan massal ini tentu mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Pemerintah harus bekerja keras untuk memulihkan kepercayaan tersebut dengan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pengawasan program.

Selain itu, perlu ada komunikasi yang efektif dengan masyarakat terkait hasil investigasi dan langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan. Masyarakat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana pemerintah akan menjamin keamanan pangan dalam program MBG.

Harapan di Tengah Tragedi: Perbaikan Sistem dan Jaminan Keamanan Pangan

Tragedi keracunan massal di Lembang ini harus menjadi momentum untuk melakukan perbaikan mendasar pada sistem pengelolaan program MBG. Pemerintah harus memastikan bahwa program ini benar-benar memberikan manfaat yangOptimal bagi anak-anak Indonesia, tanpa membahayakan kesehatan mereka.

Ke depan, perlu ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta untuk mewujudkan program MBG yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Dengan begitu, mimpi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan gizi terbaik dapat terwujud tanpa harus mempertaruhkan nyawa mereka.

Pemerintah harus menunjukkan komitmen yang kuat untuk melindungi kesehatan anak-anak Indonesia. Jangan biarkan tragedi ini terulang kembali. Keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam setiap program yang melibatkan pemberian makanan kepada masyarakat, terutama anak-anak.

Baca Juga:
Pasar Kue Subuh Senen: Denyut Ekonomi dan Tradisi Kuliner Jakarta yang Tak Pernah Tidur

Semoga tragedi di Lembang ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Mari bersama-sama membangun sistem pangan yang aman, sehat, dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pasar Kue Subuh Senen: Denyut Ekonomi dan Tradisi Kuliner Jakarta yang Tak Pernah Tidur

26 Desember 2025 - 19:57 WIB

Rahasia Singkong Goreng Merekah dan Empuk Tanpa Air Es

26 Desember 2025 - 19:08 WIB

Kreativitas Kuliner Nusantara: Ragam Camilan dan Olahan Unik dari Daun Pepaya

26 Desember 2025 - 18:24 WIB

Wajib Tahu, Ini Bagian Udang yang Aman Dimakan dan Sebaiknya Dihindari

25 Desember 2025 - 02:07 WIB

Waspada Saat Terbang, Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Pesawat

25 Desember 2025 - 01:52 WIB

Ayam Panggang Bumbu Pedas yang Meresap, Daging Empuk dan Juicy

23 Desember 2025 - 18:37 WIB

Trending di Kuliner