Menu

Mode Gelap

Berita · 23 Nov 2025 20:40 WIB

Transformasi Pulau Buntar: Listrik 24 Jam Mengubah Kehidupan Warga


 Transformasi Pulau Buntar: Listrik 24 Jam Mengubah Kehidupan Warga Perbesar

PROLOGMEDIA – Malam di Pulau Buntar kini berubah wajah. Dahulu lampu hanya menyala sebentar, kini pulau kecil itu benderang sepanjang malam — listrik 24 jam hadir seperti sinar harapan yang tak pernah padam. Bagi sebagian warga, ini bukan sekadar aliran arus; ini adalah titik balik dalam kehidupan mereka, yang katanya telah berubah total.

 

Kehadiran listrik seharian penuh menandai babak baru bagi masyarakat Buntar. Beberapa keluarga yang sebelumnya hanya mengandalkan lampu darurat di malam gelap kini bisa hidup dengan tenang. Kegiatan belajar anak-anak bisa dilanjutkan di malam hari tanpa harus terburu-buru karena takut lampu mati. Mereka bisa menyalakan kipas angin, kulkas, atau televisi kapan pun, tak lagi dibatasi oleh jam operasi generator. Hal-hal sederhana seperti mematikan dan menyalakan meteran listrik pun menjadi bagian dari rutinitas biasa, bukan lagi momen penuh kecemasan.

 

Salah satu ibu di pulau itu menceritakan betapa perubahan ini telah menyentuh rutinitas hariannya. Dulu, saat listrik hanya menyala beberapa jam, dia harus menyusun strategi agar pekerjaan rumah bisa selesai lebih awal. Menanak nasi, menyimpan makanan dalam kulkas, atau menggunakan alat elektronik harus disesuaikan dengan waktu nyala listrik. Sekarang, dia bisa memasak dengan tenang kapan pun dia mau, bahkan di malam hari. Elektronik rumah tangga tidak lagi menjadi beban berat yang harus dihemat sedemikian rupa.

 

Bagi para pelajar, listrik 24 jam adalah hadiah luar biasa. Mereka tidak lagi terkejar oleh batas waktu saat mengerjakan tugas. Buku, laptop, ruang baca — semuanya bisa dimanfaatkan tanpa khawatir malam segera gelap. Bagi orang tua, ini adalah momen di mana mereka bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat, karena akses internet dan penerangan sudah stabil sepanjang hari.

 

Tak hanya itu, listrik sepanjang malam membuka peluang perekonomian baru di pulau ini. Sebelumnya, usaha kecil warga seperti warung makan atau toko kelontong sangat terbatas oleh jam nyala listrik. Namun kini, pemilik warung bisa memperpanjang jam operasional, menikmati penerangan untuk melayani pelanggan hingga larut malam, dan menjalankan kulkas atau peralatan masak tanpa khawatir pemadaman tiba-tiba. Warga yang ingin membuka usaha rumahan — misalnya menjahit, membuat kerajinan, atau usaha kecil lainnya — mendapat akses yang sangat berarti.

 

Lebih dari itu, kehadiran listrik penuh juga memperkuat koneksi sosial, karena genset dan pemadaman yang dulu memaksa orang berkumpul saat listrik padam kini tidak lagi menjadi masalah. Komunikasi melalui ponsel, akses internet, dan hiburan malam sekarang menjadi bagian wajar dari kehidupan sehari-hari di pulau. Warga bisa menonton berita, menelpon kerabat di daratan, ataupun mengakses informasi online tanpa gangguan.

 

Bagi sebagian penduduk, listrik 24 jam bukan hanya soal kenyamanan, tetapi simbol kehadiran negara. Selama ini, pulau-pulau kecil sering merasa terisolasi, baik dari sisi fisik maupun akses infrastruktur dasar. Kini, penerangan yang tak pernah padam menjadi bukti nyata bahwa negara hadir hingga titik paling terpencil. Bagi banyak orang, ini adalah wujud keadilan energi, sebuah janji yang lama ditunggu dan akhirnya ditepati.

Baca Juga:
Dapur MBG Polri Jadi Percontohan Global, Sorotan Internasional Menguat

 

Ritme kehidupan masyarakat pun berubah. Dengan listrik yang stabil, anak-anak bisa belajar lebih lama, orang tua dapat beraktivitas di malam hari, dan produktivitas warga meningkat. Ada pula rasa aman yang tumbuh: saat malam datang, pulau tidak lagi tenggelam dalam kegelapan total. Lampu jalan, penerangan rumah, dan fasilitas publik lebih bisa diandalkan.

 

Cerita transformasi ini juga memancar dari wajah warga yang bahagia. Ada rasa syukur, lega, dan semangat baru yang muncul di antara mereka. Senyum lebih mudah muncul, harapan masa depan tampak lebih nyata. Generasi muda berbicara tentang kesempatan yang lebih luas, sementara generasi tua merasa kerja keras dan perjuangan mereka memberi buah manis.

 

Namun, mencapai titik ini tidaklah mudah. Butuh kerja keras, kolaborasi, dan keberanian untuk membangun infrastruktur listrik di tempat yang relatif jauh dan sulit dijangkau. Pembangunan gardu, kabel, dan sistem suplai listrik harus disesuaikan dengan kondisi geografis pulau, cuaca, dan kebutuhan lokal. Meski sulit, upaya ini membuahkan hasil yang sangat berarti. Bagi warga Buntar, nyala listrik bukan sekadar kebutuhan fungsional: ini adalah penerangan harapan.

 

Dampak sosial dan ekonomi dari listrik 24 jam mulai terlihat. Aktivitas pendidikan, usaha mikro, dan kehidupan sehari-hari makin hidup. Anak-anak bisa belajar larut malam, perempuan bisa menjalankan usaha rumahan setelah tugas harian selesai, dan warga bisa berkumpul tanpa rasa takut gelap datang tiba-tiba. Ini menciptakan ruang-ruang baru untuk berkarya, berkembang, dan bermimpi.

 

Pulau Buntar kini menatap masa depan dengan keyakinan baru. Listrik yang menyala setiap detik adalah pengingat bahwa kemajuan bisa menjangkau di mana pun — bahkan di pulau kecil yang sebelumnya terbatas aliran daya. Terang bukan sekadar simbol fisik, tetapi lambang perubahan sosial. Dengan listrik yang tak pernah padam, penduduk Buntar merangkul kehidupan yang lebih cerah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.

 

Sementara itu, kisah Pulau Buntar menjadi inspirasi bagi daerah-daerah terluar lainnya. Bila sebuah pulau kecil bisa menyulut terang sepanjang malam, maka pulau-pulau lain pun memiliki potensi yang sama. Cerita ini mengingatkan bahwa pemerataan energi bukan sekadar soal bangunan fisik, tetapi soal kemanusiaan — memberikan akses, harapan, dan kesempatan kepada masyarakat di mana pun mereka tinggal.

 

Baca Juga:
Candaan Pandji Pragiwaksono Berujung Petaka: Dituntut 50 Kerbau dan Terancam Somasi!

Bagi warga Buntar, hidup dengan listrik 24 jam adalah kenyataan yang dulu hanya impian. Sekarang, lampu yang tak pernah padam adalah saksi bisu dari perjalanan panjang mereka, dari gelap menuju terang, dari keterbatasan menuju kemerdekaan energi. Mereka tidak lagi hanya menyalakan lampu — mereka menyalakan masa depan.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita