Menu

Mode Gelap

Blog · 30 Nov 2025 02:29 WIB

Budidaya Nemo dan Kuda Laut di Pulau Tidung Kecil Jadi Pusat Edukasi dan Konservasi Laut


 Budidaya Nemo dan Kuda Laut di Pulau Tidung Kecil Jadi Pusat Edukasi dan Konservasi Laut Perbesar

PROLOGMEDIA – Di lepas pantai Jakarta, di gugusan Pulau Tidung Kecil — bagian dari Kepulauan Seribu — terdapat sebuah pusat konservasi yang menyimpan harapan bagi masa depan biota laut kecil dan langka: sebuah tempat budidaya dan pelestarian untuk ikan hias dan hewan laut eksotis. Di sinilah, kedua makhluk laut yang begitu dicintai banyak orang — ikan badut, alias “nemo”, serta kuda laut — dipelihara secara hati-hati, dalam kolam-kolam dan ruangan-ruangan dengan suhu terjaga ketat, jauh dari hingar-bingar wisata biasa.

Masuk ke area budidaya bukanlah soal berfoto ria atau sekadar eksis di media sosial. Akses ruang itu benar-benar dibatasi — hanya sekitar 10 orang boleh berada di dalamnya pada satu waktu. Ini bukan tempat kunjungan santai melainkan pusat edukasi: kalau kamu bukan bagian dari tim riset, universitas, atau lembaga resmi wisata yang berkoordinasi dengan pengelola, pintu tinggal tertutup. Pernyataan ini disampaikan secara tegas oleh salah satu teknisi setempat, yang menekankan bahwa ruangan budidaya bukan untuk ‘swafoto’ melainkan untuk belajar.

Di kolam-kolam konservasi itu, jenis nemo yang dibudidayakan dibagi menjadi dua kategori: nemo “alami” dan nemo “hybrid” — hasil persilangan. Nemo alami merupakan varietas dari wilayah Kepulauan Seribu, seperti jenis amphiprion dan premnas — masyarakat lokal sering menyebutnya “nemo balong” karena ukurannya yang relatif besar. Sementara itu, jenis hybrid memiliki corak berbeda: warna dasar hitam berpola putih, seperti polkadot; jenis ini dikenal sebagai “storm” atau “moka”, dan umumnya dipatok harga berbeda dari nemo alami.

Pentingnya menjaga kondisi lingkungan budidaya muncul sebagai hal krusial. Air yang digunakan bukan air tawar, melainkan air laut asli — karena ikan nemo tidak bisa bertahan di air tawar. Kualitas air, kesesuaian suhu, serta kelayakan lingkungan kolam adalah faktor penentu: telur nemo, misalnya, awalnya menempel pada media seperti pot atau anemon buatan, sebelum menetas dan berkembang. Indukan biasanya dipilih dari ikan berukuran sekitar 4 cm — dari situ, induk dijodohkan di satu wadah, lalu dibiarkan memilih pasangan mereka sendiri, daripada dibantu secara manual. Metode ini — lebih alami — ternyata lebih cepat dan efisien.

Ukuran dan jenis sangat memengaruhi harga: untuk nemo hasil budidaya, ukuran S (2-3 cm) dan L (3-4 cm) memengaruhi nilai jualnya, juga pewarnaan tubuh. Menurut koordinator divisi biota laut di pusat konservasi, seekor nemo dijual seharga Rp 25.000 — tetapi dengan catatan, penjualan hanya dilakukan dalam skala besar (minimal 30 ekor). Hal ini karena proses pengemasan ikan laut requires ketelitian dan protokol tersendiri — tidak seperti membeli ikan hias secara eceran biasa.

Baca Juga:
Tertinggal Kereta, Penumpang Menginap di Stasiun Rangkasbitung: Potret Keterbatasan Transportasi

Sementara itu, budidaya kuda laut juga dijalankan di fasilitas ini. Spesies yang dibudidayakan berasal dari genus Hippocampus, dan memiliki cara berkembangbiak yang unik — jantan, bukan betina, memelihara telur di kantung khusus, sampai larva siap dilepaskan. Di penangkaran terdapat indukan dan benih untuk kuda laut, persiapan yang memungkinkan pelepasan kembali ke alam suatu hari nanti.

Namun, tidak semua hasil budidaya bisa dilepas ke laut. Nemo keluaran dari persilangan (hybrid) dilarang dilepas ke alam — karena dikhawatirkan dapat mengganggu keanekaragaman hayati. Hanya nemo alami yang telah mencapai ukuran tertentu (lebih dari 3 cm, atau sekitar tiga bulan dari fase larva) yang bisa dilepas kembali ke laut, sebagai bagian dari program restocking untuk menjaga populasi laut di perairan Kepulauan Seribu.

Pusat Budidaya dan Konservasi Laut Pulau Tidung Kecil ini muncul bukan semata sebagai tempat memelihara ikan hias demi komoditas, melainkan sebagai upaya nyata menjaga keberlanjutan biota laut dan mendukung ekosistem laut di sekitarnya. Keberadaan fasilitas ini sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian laut dan budidaya ikan hias bisa berjalan beriringan — asal dikelola dengan keseriusan, kehati-hatian, dan komitmen terhadap kelestarian.

Rasakan pula bahwa Pulau Tidung Kecil bukan sekadar destinasi wisata biasa: pulau ini berfungsi sebagai sentra konservasi laut, dengan berbagai aktivitas selain budidaya ikan — dari penangkaran penyu, pembibitan mangrove, hingga museum kerangka paus. Inilah kawasan yang dirancang untuk menjaga warisan laut sekaligus memberi pendidikan ekologis bagi masyarakat dan pengunjung yang peduli.

Ke depan, pengelola pun berencana memperluas jenis ikan hias yang dibudidayakan — salah satunya adalah ikan dori — menunjukkan tekad untuk terus mengembangkan konservasi dan budidaya secara bertanggung jawab. Dengan demikian, Pulau Tidung Kecil memiliki potensi besar menjadi model bagi kegiatan budidaya laut yang ramah ekologis, sekaligus berkontribusi terhadap pelestarian dan pemulihan ekosistem laut di Indonesia.

Baca Juga:
Inovasi Beras Presokazi: Terobosan UGM untuk Perbaikan Gizi Anak dan Ibu Hamil

Semoga upaya seperti ini bisa terus berkembang — tidak hanya sebagai tempat untuk melihat keindahan laut dari dekat, tetapi sebagai laboratorium hidup yang menjaga keberlangsungan laut, biota-biotanya, dan generasi masa depan yang peduli terhadap alam.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Manfaat Menaruh Spons di Dalam Lemari Es: Trik Sederhana untuk Menjaga Buah dan Sayuran Tetap Segar

30 November 2025 - 20:45 WIB

Cara Menyimpan Kopi yang Benar agar Tetap Segar dan Enak Lebih Lama

30 November 2025 - 20:22 WIB

Jepang Luncurkan Mesin Cuci Manusia Futuristik, Harga Tembus Rp6,4 Miliar

30 November 2025 - 20:06 WIB

Indonesia Jadi Negara Paling Kecanduan Internet: 98,7 Persen Warga Tak Lepas dari Ponsel

29 November 2025 - 20:31 WIB

Pendaftaran Kartu Layanan Gratis Transportasi Jakarta Dibuka di CFD dengan Kuota Terbatas

29 November 2025 - 16:59 WIB

Pelita Air Tambah Armada Airbus A320 untuk Antisipasi Lonjakan Penumpang Libur Nataru 2025/2026

29 November 2025 - 16:49 WIB

Trending di Blog