Menu

Mode Gelap

Blog · 6 Nov 2025 12:47 WIB

Sejarah Panjang Kasunanan Surakarta: Mengenang Para Raja Keraton Solo


 Sejarah Panjang Kasunanan Surakarta: Mengenang Para Raja Keraton Solo Perbesar

SOLO – Di jantung Kota Solo, berdiri megah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebuah simbol kejayaan dan kelestarian budaya Jawa yang telah melewati rentang waktu lebih dari dua setengah abad. Pada Minggu pagi, 2 November 2025, kabar duka menyelimuti keraton dan seluruh masyarakat Solo. Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono XIII, menghembuskan napas terakhirnya di usia 77 tahun. Kepergian Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi ini menandai berakhirnya sebuah era kepemimpinan, sebuah babak sejarah yang panjang dan penuh warna.

Paku Buwono XIII dikenal sebagai sosok yang berkomitmen tinggi dalam menjaga tradisi Keraton serta melestarikan naskah-naskah klasik. Sebagai putra sulung Paku Buwono XII, beliau menjadi figur sentral dalam mempertahankan eksistensi Kasunanan Surakarta di tengah arus perubahan zaman yang deras. Di bawah kepemimpinannya, keraton tetap menjadi pusat budaya Jawa yang memancarkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.

Namun, perjalanan panjang Keraton Solo tidaklah selalu mulus. Sejak berdiri pada abad ke-18, keraton ini telah melewati berbagai macam tantangan dan cobaan, mulai dari konflik internal hingga tekanan dari kekuatan kolonial. Setiap raja yang bertakhta memiliki peran dan kontribusinya masing-masing dalam menjaga kelangsungan keraton.

Mari kita menelusuri jejak para raja Keraton Surakarta dari masa ke masa, sebuah perjalanan sejarah yang akan membawa kita memahami lebih dalam tentang dinamika dan perkembangan keraton ini.

1. Paku Buwono II (1745-1749): Sang Pendiri Kasunanan Surakarta

Paku Buwono II adalah raja pertama Kasunanan Surakarta sekaligus raja terakhir Mataram Kartasura. Nama aslinya Raden Mas Prabasuyasa, putra Amangkurat IV. Pada masa pemerintahannya terjadi peristiwa penting yang dikenal sebagai Geger Pecinan, yang menyebabkan perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745. Perpindahan ini menjadi titik awal berdirinya Kasunanan Surakarta yang kita kenal hingga saat ini.

2. Paku Buwono III (1749-1788): Masa Perjanjian Giyanti

Raden Mas Suryadi naik takhta pada 15 Desember 1749. Masa pemerintahannya ditandai dengan lahirnya Perjanjian Giyanti, sebuah perjanjian yang membagi Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian ini menjadi tonggak sejarah penting yang memisahkan dua kerajaan besar di Jawa.

3. Paku Buwono IV (1788-1820): Sunan Bagus yang Dekat dengan Ulama

Dikenal sebagai Sunan Bagus karena ketampanannya, raja bernama asli Raden Mas Subadya ini dikenal dekat dengan ulama. Ia meninggalkan banyak karya sastra seperti Wulang Sunu dan Serat Sasana Prabu, serta mendirikan bangunan penting seperti Masjid Agung Surakarta. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan agama menjadikannya sosok yang dihormati oleh masyarakat.

4. Paku Buwono V (1820-1823): Penyusun Serat Centhini

Meskipun pemerintahannya singkat, hanya tiga tahun, Paku Buwono V dikenal memimpin penyusunan Serat Centhini, sebuah karya sastra besar yang memuat nilai moral dan kebudayaan Jawa. Serat Centhini menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya bagi masyarakat Jawa.

5. Paku Buwono VI (1823-1830): Pejuang yang Diasingkan

Raden Mas Sapardan naik takhta pada 1823. Ia berupaya menjaga keutuhan Surakarta dari pengaruh kolonial Belanda dan mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Keberaniannya melawan penjajah membuatnya diasingkan ke Ambon hingga wafat.

6. Paku Buwono VII (1830-1858): Masa Damai dan Berkembangnya Sastra Jawa

Baca Juga:
ASN Pandeglang ‘Kabur’: Setahun Absen, Ternyata Takut Debt Collector!

Raden Mas Malikis Solikin memerintah di masa relatif damai setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Pada masanya, sastra Jawa berkembang pesat dengan hadirnya pujangga besar Ranggawarsita.

7. Paku Buwono VIII (1858-1861): Pewaris Budaya di Usia Lanjut

Kakak Paku Buwono VII ini naik takhta di usia lanjut. Meski masa pemerintahannya singkat, ia meninggalkan peninggalan budaya seperti Gamelan Kyai Pandu yang digunakan dalam kegiatan keagamaan.

8. Paku Buwono IX (1861-1893): Transisi Menuju Modernitas

Raden Mas Duksino memimpin selama lebih dari tiga dekade. Masa kekuasaannya dikenal sebagai periode transisi menuju modernitas, meski disebut Ranggawarsita sebagai “zaman edan” karena banyak pejabat istana yang menyimpang.

9. Paku Buwono X (1893-1939): Masa Kemakmuran Surakarta

Raja bernama asli Raden Mas Sayiddin Malikul Kusno ini dianggap sebagai penguasa paling berpengaruh di Surakarta. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami kemakmuran besar. Ia membangun banyak fasilitas publik seperti Pasar Gede, Stadion Sriwedari, dan Taman Balekambang.

10. Paku Buwono XI (1939-1945): Masa Sulit di Tengah Perang

Raden Mas Antasena memimpin di masa sulit saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang. Kekayaan keraton banyak dirampas, dan ekonomi Surakarta mengalami krisis.

11. Paku Buwono XII (1945-2004): Penjaga Budaya di Era Republik

Raden Mas Surya Guritna naik takhta pada Juni 1945 di usia 20 tahun. Pada masa pemerintahannya, status istimewa Surakarta dicabut pada 1946. Meski demikian, ia tetap berupaya menjaga peran keraton sebagai pusat budaya Jawa hingga wafat pada 2004.

12. Paku Buwono XIII (2004-2025): Pelestari Tradisi di Era Modern

Lahir di Solo pada 28 Juni 1948, KGPH Hangabehi memimpin Keraton Solo selama dua dekade. Ia dikenal aktif menjaga tradisi, merawat naskah kuno, dan memperkuat nilai budaya di tengah arus modernisasi.

Demikianlah daftar nama raja Keraton Solo dari masa ke masa, sebuah cerminan perjalanan panjang Kasunanan Surakarta selama lebih dari dua setengah abad.

Dari masa awal perpindahan kerajaan di era Paku Buwono II hingga kepemimpinan Paku Buwono XIII, setiap raja telah memberikan warna dan kontribusi tersendiri bagi kelangsungan dan kejayaan keraton.

Baca Juga:
Masyarakat Baduy Segera Dapat Makanan Bergizi Gratis? Ini Rencana Pemerintah!

Warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para raja ini akan terus hidup dan menjadi pedoman bagi generasi mendatang.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

7 Cara Efektif Mengusir Laron yang Sering Muncul Usai Hujan di Rumah

22 Desember 2025 - 22:42 WIB

Trending di Blog